Tri menyatakan masih mencari solusi atas hal tersebut agar pada akhirnya mineral ikutan emas tetap laku terjual saat DMO diberlakukan.
“Ini tambahan lagi nih, kalau emas bagaimana dengan nasib perak? Kalau misalnya perak dijual sendiri, nanti yang nangkep kurang begitu ini,” kata Tri.
Adapun, pada pekan lalu Tri sempat menyatakan kementeriannya belum melanjutkan pembahasan wacana wajib pasok dalam negeri emas.
Dengan begitu, Tri mengatakan kebutuhan emas PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) bakal dipenuhi lewat impor sementara waktu, sembari menunggu pemulihan pasokan dari PT Freeport Indonesia.
“Belum ada pembahasan lagi itu [DMO emas]. Ya menunggu Freeport atau nanti impor kan,” kata Tri kepada awak media di parlemen, Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Untuk diketahui, pemerintah tengah mengkaji skema DMO emas sebagai upaya memperkuat pasokan dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor.
Apalagi, pasokan emas domestik belum mencukupi kebutuhan nasional, sehingga Antam masih terus mengimpor sekitar 30 ton emas per tahun dari Singapura dan Australia.
Di lain sisi, kemampuan produksi emas Antam sendiri terbatas; hanya sekitar 1 ton per tahun dari tambang Pongkor.
Kementerian ESDM juga membuka peluang menerapkan DMO emas secara terbatas, hingga produksi PT Freeport Indonesia pulih pascainsiden longsor di tambang Grasberg Block Cave (GBC).
Antam sendiri sudah perjanjian pembelian 30 ton emas per tahun dari Freeport yang cukup untuk kebutuhan normal.
Namun, dengan terganggunya produksi Freeport, pasokan tersebut belum terpenuhi. Untuk itu, DMO dianggap sebagai langkah darurat menjaga ketersediaan emas di pasar domestik.
Hingga kini, manajemen Antam menegaskan masih menanti rencana penerapan kewajiban pasok dalam negeri untuk komoditas emas, sembari menyerahkan sepenuhnya besaran dan harga emas khusus DMO ke pemerintah.
Sebagai informasi, Freeport menargetkan produksi emas sebesar 33 ton, pada tahun depan diprediksi turun menjadi 26 ton gegara tambang GBC masih dalam perbaikan.
Setelah perbaikan tambang rampung pada 2027, Freeport memprediksi produksi emas naik menjadi 39 ton. Pada 2028, produksi emas Freeport diproyeksi meningkat ke level 43 ton, dan pada 2029 diprediksi stabil di level 43 ton.
Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas memastikan emas yang diproduksi perusahaan akan dijual ke Antam, sebab sudah terdapat perjanjian kerja sama penjualan emas ke Antam sebesar 30 ton.
Tony juga membuka peluang untuk menjual seluruh produksi emas Freeport ke Antam jika perusahaan pelat merah tersebut membutuhkan pasokan tambahan.
Adapun, HMA diterbitkan oleh Kementerian ESDM sebanyak dua kali setiap bulannya setiap awal bulan dan pekan ketiga pada bulan yang sama. Dalam aturan itu, Kementerian ESDM mengatur harga acuan emas sebagai mineral ikutan setiap bulannya.
HMA emas sebagai mineral ikutan yang diterbitkan Kementerian ESDM merupakan harga rata-rata logam emas yang dipublikasikan London Metal Exchange (LME) untuk periode tertentu di setiap periodenya.
(azr/wdh)






























