“Jika obligasi Vanke gagal bayar saat ini, hal itu bisa merusak efektivitas kebijakan penyelamatan pemerintah,” kata Li Gen, pendiri Beijing G Capital Private Fund Management Center yang fokus pada pasar obligasi high-yield China. “Ini dapat mempercepat penurunan harga rumah, dan kredibilitas pengembang milik negara lainnya bisa ikut dipertanyakan,” tambahnya.
Bank-bank global sebagian besar memperkirakan prospek suram bagi sektor properti China, yang kembali mengalami penurunan penjualan sejak kuartal kedua. UBS Group AG memprediksi harga rumah akan terus turun setidaknya dua tahun lagi. Sementara Fitch Ratings menyebut penjualan rumah baru berdasarkan luas bangunan bisa turun 15%-20% dari level saat ini sebelum pasar stabil.
Dalam upaya meredam dampak krisis utang, otoritas keuangan meningkatkan pengawasan terhadap pelanggaran pasar obligasi, terutama terkait kegagalan pengungkapan yang berhubungan dengan default—terutama di sektor properti—menurut laporan Shanghai Securities News.
Berkantor pusat di Shenzhen, Vanke telah lama menjadi indikator sikap pemerintah terhadap sektor properti. Pemegang saham terbesarnya, Shenzhen Metro Group Co yang dimiliki negara, telah memberikan sekitar 30 miliar yuan dalam bentuk pinjaman pemegang saham, menjadi sumber pendanaan vital yang sejauh ini membantu Vanke membayar utang dan menghindari gagal bayar tahun ini.
Namun, tali penyelamat itu mulai diragukan sejak bulan lalu, ketika mantan ketua Xin Jie mengundurkan diri dan Shenzhen Metro memberi sinyal akan memperketat syarat pemberian pinjaman. Obligasi Vanke yang jatuh tempo 2027 telah kehilangan lebih dari 40% nilainya dalam sebulan terakhir, mencerminkan kekhawatiran investor terkait kemampuan perusahaan menghadapi gelombang jatuh tempo dalam beberapa bulan ke depan.
Menurut perhitungan Bloomberg, sekitar 13,4 miliar yuan obligasi onshore akan jatuh tempo atau menghadapi opsi pelunasan hingga akhir Juni tahun depan—jumlah yang jauh lebih besar dibanding dana pinjaman tambahan yang masih tersedia dari Shenzhen Metro.
Berdasarkan kesepakatan terakhir, Vanke hanya dapat menerima maksimal 22 miliar yuan pinjaman dari awal tahun ini hingga rapat umum pemegang saham tahunan, yang paling lambat digelar 30 Juni. Dengan pinjaman yang sudah ditarik, ruang pembiayaan tambahan Vanke hingga pertengahan tahun depan sangat terbatas.
Vanke, menurut Zhang Dawei, kepala analis Centaline Property, sudah kehilangan kemampuan menghasilkan arus kas dan “bergantung pada suntikan dana eksternal untuk tetap beroperasi.” Investor kini menunggu apakah Shenzhen Metro kembali turun tangan, meski dukungan itu hanya akan menjaga Vanke bertahan, bukan memulihkannya sepenuhnya, ujarnya.
Vanke mencatat kerugian lebih besar pada kuartal ketiga di tengah tekanan berat sektor properti. Penjualan kontraktual tahunannya diperkirakan turun lebih dari 40% menjadi sekitar 138 miliar yuan, menurut proyeksi Bloomberg Intelligence.
Ujian berikutnya datang bulan depan ketika dua obligasi onshore jatuh tempo—surat utang 2 miliar yuan dan 3,7 miliar yuan yang masing-masing jatuh tempo pada 15 dan 28 Desember. Jika perusahaan mengajukan perpanjangan tenor, mendapatkan persetujuan kreditur kemungkinan tidak mudah. Berdasarkan prospektus, setiap usulan perubahan memerlukan dukungan minimal 90% pemegang obligasi terkait.
(bbn)






























