Selain ketergantungan pada mitra, Superbank juga mengingatkan adanya risiko umum terkait kemampuan perseroan menjalankan rencana strategis dan ekspansi ke pasar baru. Perseroan menilai bahwa ketidakpastian kondisi pasar maupun dinamika kompetisi dapat berpengaruh pada kinerja jangka panjang.
Rencana Merger dengan GOTO
Isu rencana merger antara Grab Holdings Inc. dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali mencuat setelah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa dua perusahaan layanan ride-hailing, Grab dan GoTo, sedang menuju proses konsolidasi menjadi satu entitas.
Saat dimintai tanggapan di Jakarta beberapa waktu lalu, Prasetyo mengonfirmasi rumor yang telah lama beredar mengenai rencana merger tersebut. “Salah satunya,” ujarnya menanggapi isu tersebut.
Ia juga menyebut adanya potensi keterlibatan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara dalam proses konsolidasi Grab–GoTo. Menurutnya, isu merger itu turut dibahas dalam penyusunan rancangan Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur status, perlindungan, dan tarif bagi mitra pengemudi ojek online.
Prasetyo menjelaskan bahwa Rancangan Perpres tersebut masih terus disempurnakan dengan menerima masukan dari berbagai pihak, termasuk mitra pengemudi maupun perusahaan aplikator.
“Di situ ada banyak hal, termasuk Danantara yang ikut terlibat karena terdapat proses korporasi yang menjadi bagian dari pembahasan,” katanya.
Namun, ia belum memberikan penjelasan lebih lanjut dan meminta publik menunggu perkembangan selanjutnya. Prasetyo memberi sinyal bahwa opsi yang sedang dibahas mencakup kemungkinan akuisisi GoTo oleh Grab. Ketika kembali ditanya mengenai aksi korporasi yang melibatkan Danantara, Grab, dan GoTo, ia menjawab, “Iya, salah satunya.”
Di tengah menguatnya dinamika konsolidasi tersebut, GoTo menghadapi tekanan internal dari para pemegang sahamnya. Berdasarkan laporan Bloomberg, sejumlah pemegang saham GOTO, termasuk SoftBank Group Corp., Provident Capital Partners, dan Peak XV, dilaporkan menandatangani memo kepada dewan direksi untuk meminta penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa.
Menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, langkah itu didorong oleh keinginan untuk mengganti CEO, setelah nilai pasar GOTO turun lebih dari 40% selama masa jabatan Patrick Walujo. Sumber yang sama menyebut bahwa Patrick dipandang menolak rencana pengambilalihan perusahaan oleh Grab.
Spekulasi semakin berlanjut pada pengumuman resmi perseroan. Pada 24 November 2025, GoTo menyampaikan bahwa Patrick Walujo mengundurkan diri dari posisi Direktur Utama. Perseroan mengajukan nama Hans Patuwo sebagai calon pengganti yang akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Desember 2025 mendatang.
(dhf)






























