Logo Bloomberg Technoz

Pada Jumat, BI mengumumkan jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 pada Oktober senilai Rp9.783,1 triliun. Tumbuh 7,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year–on–year/yoy).

Kendati bertumbuh, laju kenaikan uang beredar tersebut sedikit melambat. Sebab pada September pertumbuhannya mencapai 8% yoy.

“Pertumbuhan M2 pada Oktober didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 11% yoy dan uang kuasi sebesar 5,5% yoy,” sebut laporan BI.

Aktiva luar negeri bersih pada Oktober, lanjut laporan BI, tumbuh sebesar 10,4% yoy. Juga melambat dibanding September sebelumnya yang melaju lebih cepat 12,6% yoy.

Adapun penyaluran kredit pada Oktober tumbuh 6,9% yoy. Lagi–lagi lebih rendah ketimbang September yang tumbuh 7,2% yoy saat itu.

Kemudian tagihan bersih kepada pemerintah pusat tumbuh 5,4% yoy pada Oktober. Ini pun lebih rendah dibanding September yang naik 6,5% yoy.

Untuk uang primer (M0) adjusted, BI mencatat berjumlah Rp2.227,6 triliun pada Oktober. Angka ini mencerminkan pertumbuhan 14,4% yoy. Biarpun masih tumbuh tinggi, mencapai double digit, tetapi lagi–lagi pertumbuhan M0 adjusted melambat. Sebab pada September, pertumbuhannya mencapai 18,6% yoy.

“Sementara itu, surat berharga diterbitkan BI yang dimiliki sektor swasta terkontraksi (tumbuh negatif) 79,9% yoy,” terang laporan BI.

Sebelumnya, Perry Warjiyo Gubernur Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pertumbuhan kredit perbankan pada Oktober memang melambat. Untuk 2025, pertumbuhan penyaluran kredit diperkirakan berada di batas bawah kisaran proyeksi bank sentral.

Perlambatan kredit disebabkan oleh permintaan yang belum kuat. Antara lain dipengaruhi oleh sikap pelaku usaha yang masih menahan ekspansi.

“Atau wait and see,” ujar Gubernur BI dalam jumpa pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode November, mengutip Jumat.

Ekspansi usaha juga lebih banyak memanfaatkan sumber internal perusahaan. Alhasil, kredit yang belum tersalurkan atau undisbursed loan masih tinggi yakni mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97% dari total plafon kredit yang tersedia.

Dengan itu, “BI memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2025 berada di batas bawah kisaran 8-11% dan akan naik pada 2026,” kata Perry.

(fad/aji)

No more pages