Dalam tiga tahun terakhir, China hanya mengekspor beberapa ratus ton per bulan.
Terakhir kali China mengirim volume ekspor signifikan ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu lonjakan harga energi dan menutup sejumlah smelter di berbagai negara. Pada Mei 2022, ekspor menembus 35.000 ton, level bulanan tertinggi.
Premi harga spot seng terhadap kontrak tiga bulan di London Metal Exchange sempat melesat lebih dari US$300 per ton bulan lalu, menandakan kekurangan pasokan langsung.
Meski selisih itu kini menyempit menjadi US$130 per ton, ekspor dari China tetap menguntungkan. Produksi seng negara tersebut, sementara itu, mencapai rekor tertinggi 665.000 ton pada bulan lalu.
Seng terutama digunakan untuk proses galvanisasi baja. Kapasitas produksi di China terus bertambah meski sektor konstruksi terpukul oleh kejatuhan pasar properti yang berkepanjangan.
Kondisi ini kemungkinan menyisakan surplus untuk diekspor hingga kuartal pertama 2026, karena stok domestik biasanya meningkat menjelang Tahun Baru Imlek, menurut catatan Zijin Tianfeng Futures Co.
Harga futures seng bergerak menguat baik di London maupun China. Kontrak di LME naik 0,2% menjadi US$2.995 per ton pada pukul 10:23 pagi waktu Shanghai, sementara di Shanghai Futures Exchange naik 0,4%.
(bbn)
































