Sementara itu, bisnis aviasi atau maskapai penerbangan, anak usaha Pertamina yakni Pelita Air Service sedang menjalani proses kajian untuk digabungkan dengan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA),
Sementara bisnis sektor asuransi, Agung menjelaskan saat ini sedang dilakukan kajian implementasi konsolidasi badan usaha milik negara (BUMN) asuransi yang dikoordinir oleh holding asuransi Indonesia Financial Group (IFG).
“Secara bertahap ini bukan hanya Pertamina tapi banyak sekali berbagai perusahaan asuransi di ekosistem BUMN yang akan dikonsolidasikan,” ungkap dia.
Selain itu, Agung juga menyatakan Pertamina sudah melikuidasi dua entitas bisnis yang sudah tak berkontribusi bagi perseroan.
Pertama, TRB London yang merupakan anak usaha sektor asuransi, proses likuidasi rampung pada Februari 2025.
Kedua, Pertamina Energi Service Pte. Ltd yang berbasis di Singapura dan merupakan anak perusahaan dari Pertamina Energy Trading Limited (Petral)--yang sudah dibubarkan pemerintah.
“Pertamina Energy Services Private Limited yang berbasis di Singapura dan merupakan dulunya anak perusahaan dari Petral yang sudah dituntaskan likuidasinya di bulan Juli 2025 lalu sebagai bagian dari tahapan transformasi dan reformasi tetap kelola yang berkelanjutan,” ucap dia.
Merger Hilir
Agung juga menyatakan penggabungan tiga anak usaha di lini hilir migas—PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS) — sedang memasuki tahapan pembahasan internal untuk mencapai persetujuan sesuai dengan prosedur.
“Sebagai contoh, siang hari ini kami akan melanjutkan pembahasan dengan dewan komisaris untuk mendapatkan persetujuan atas detail teknis yang dilakukan dengan target persiapan go live-nya pada 2026,” ucap Agung.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menargetkan merger tiga anak usaha di lini hilir migas tersebut rampung pada 1 Januari 2026.
Simon menyatakan saat ini perusahaan sudah memasuki tahap finalisasi merger tiga entitas subholding hilir migas tersebut, sebelum melaporkannya ke Danantara selaku pemegang saham untuk mendapatkan persetujuan.
“Sekarang kita sedang tahap finalisasi, nanti kita akan laporkan ke Danantara untuk mendapatkan persetujuannya. Kita sih kejarnya mudah-mudahan per 1 Januari 2026 sudah terlaksana gitu,” kata Simon saat ditemui di kantor di Kementerian ESDM, dikutip Selasa (11/11/2025).
Simon juga menegaskan kembali bahwa Pertamina akan melepas bisnis penerbangannya, yakni PT Pelita Air, untuk digabungkan dengan Garuda Indonesia.
Saat ini, kata Simon, proses pengalihan Pelita Air ke GIAA masih dilakukan dan terus dikoordinasikan dengan Danantara.
“Pembicaraan sudah kita rintis, tetapi tentunya mengikuti langkah-langkah yang sudah ada saat ini; termasuk penilaian-penilaian dari internal kita, penilaian dari internal Pelita Air, begitu juga ke Danantara untuk kemudian nanti finalisasinya disambil,” ungkapnya.
(azr/wdh)




























