Kemudian, inflasi juga melaju kencang dengan angka mencapai 2,86% secara tahunan atau year-on-year (yoy) per Oktober kemarin, melewati periode moderat dari bulan-bulan sebelumnya. Bulan sebelumnya inflasi masih sebesar 2,65%.
"Dalam lingkungan ini, mempertahankan suku bunga kebijakan sebesar 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur mendatang akan mendukung stabilitas rupiah dan memperkuat kepercayaan terhadap sikap kebijakan Bank Indonesia," ungkapnya.
Senada, Faisal Rachman, Department Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Institute juga memproyeksikan BI akan menahan suku bunga acuan atau BI Rate, seiring dengan ketidakpastian global yang masih tinggi.
Tetapi, Faisal memberikan sinyal jika penurunan suku bunga BI Rate akan terjadi pada Desember tahun ini, yang juga diproyeksikan akan berlanjut pada 2026.
"Kami memproyeksikan ruang pelonggaran total sekitar 50 bps, karena kebijakan pro-pertumbuhan dapat memperlebar defisit kembar (defisit transaksi berjalan dan defisit fiskal), sehingga BI perlu mempertahankan sikap kehati-hatian," kata Faisal dalam catatannya.
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, dengan melibatkan 32 analis/ekonom, median proyeksi juga berada di 4,75% atau tidak berubah.
Ekonom Bloomberg Intelligence Tamara Henderson mengatakan, BI masih akan mengambil waktu untuk melihat bagaimana transmisi pelonggaran moneter yang sudah dilakukan.
Sebagai informasi, BI Rate sudah turun 125 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Suku bunga acuan menyentuh titik terendah sejak 2022. "Suku bunga simpanan di perbankan hanya sedikit berubah sejak RDG Oktober, di mana kala itu BI menyuarakan soal transmisi kebijakan moneter," kata dia.
BI, tambah Henderson, juga harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sejak RDG Oktober, rupiah melemah 0,9% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menjadi yang terlemah di level Asia Tenggara.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, maka arus modal keluar (capital outflow) perlu diredam.
(ibn/roy)



























