Sejumlah kilang swasta, yang biasanya lebih berani mengambil risiko ketika membeli minyak sensitif, ikut menghindari minyak dari wilayah Timur Jauh Rusia.
Sikap hati-hati mereka muncul setelah Uni Eropa dan Inggris memasukkan Shandong Yulong Petrochemical Co., kilang “teapot” yang menjadi pembeli utama minyak Rusia ke daftar hitam.
Rangkaian kejadian ini menciptakan tingkat kekhawatiran yang tidak biasa di pasar.
Peningkatan rasa takut ini menjadi pembeda terbesar antara langkah terbaru AS dan berbagai pembatasan Barat sebelumnya, menurut Vandana Hari, pendiri firma analisis Vanda Insights yang berbasis di Singapura. “Sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil bisa menjadi titik balik.”
Kecemasan para pembeli China terjadi saat kilang-kilang India juga mengurangi pembelian minyak Rusia, menunjukkan bahwa upaya Barat untuk mengurangi pendanaan Kremlin bagi perang di Ukraina mulai menunjukkan dampaknya.
Namun, ketahanan pelabuhan-pelabuhan yang sudah masuk daftar hitam seperti Dongjiakou di provinsi Shandong menunjukkan bahwa arus kembali bisa meningkat jika tidak ada pengawasan dan penegakan yang ketat.
Menurut perkiraan Rystad Energy AS, impor minyak mentah Rusia via laut oleh China dapat turun 500.000 hingga 800.000 barel per hari bulan ini, atau hingga dua pertiga dari level normal.
Sementara itu, pasokan dari Iran bisa turun 200.000 hingga 400.000 barel per hari, atau hingga 30%.
Saat ini terdapat kelebihan pasokan minyak sensitif yang kesulitan menemukan pembeli, kata Emma Li, analis pasar China di Vortexa Ltd., firma pelacakan kapal dan intelijen energi.
Kilang-kilang swasta China kekurangan kuota impor, sementara para penjual ingin melepas kargo sehingga harga ikut tertekan, katanya.
Impor minyak Iran oleh China yang biasanya masuk melalui pelabuhan Rizhao tetap rendah setelah pelabuhan tersebut dikenai sanksi pada Oktober karena hubungannya dengan produsen dari Teluk Persia.
Stok yang sudah tinggi di Shandong serta kekurangan kuota impor di kalangan kilang swasta juga menekan permintaan, menurut Vortexa.
Akibatnya, volume minyak Iran yang disimpan di laut meningkat menjadi hampir 48 juta barel pada akhir pekan lalu, tertinggi dalam lebih dari dua tahun, menurut Kpler.
Sekitar 40% minyak itu berada di Selat Singapura, dan porsi serupa mengapung di Laut Kuning dan Laut China Selatan.
Kini terdapat kelebihan pasokan ESPO, yang ditawarkan dengan diskon US$4 per barel dari harga acuan untuk penjualan ke China, menurut para pedagang. Diskon ini jauh lebih besar dibandingkan selisih 50 sen pada akhir Oktober.
Harga semacam itu bisa terlalu menggoda bagi sejumlah kilang China, yang mungkin kembali menggunakan cara lama: mematikan transponder dan melakukan transfer antarkapal untuk menyembunyikan asal minyak yang mereka beli.
Pelabuhan Dongjiakou juga kembali muncul sebagai jalur untuk minyak sensitif. Pelabuhan itu dikenai sanksi AS pada Agustus, meningkatkan risiko bagi pedagang, pemilik kapal, dan lembaga keuangan yang terlibat.
Namun setelah sempat terjadi penurunan arus, pelabuhan itu kini kembali menangani volume besar minyak Iran, menunjukkan bahwa bagi sebagian pembeli, peluang tetap dianggap lebih besar daripada risikonya.
Perlambatan pembelian minyak Rusia dan Iran saat ini juga mungkin disebabkan oleh hampir habisnya kuota impor bagi kilang swasta menjelang akhir tahun. Kondisi ini mendorong mereka untuk meminta tambahan kuota kepada pemerintah.
Namun sekalipun kuota tambahan disetujui, beberapa kilang China kemungkinan tetap memilih pendekatan “wait and see” terhadap pembelian minyak Rusia untuk melihat seberapa ketat sanksi akan ditegakkan, kata Jianan Sun, analis di Energy Aspects Ltd.
“Akan dibutuhkan waktu untuk memperkuat saluran pembelian dan rantai pasok yang baru.”
(bbn)






























