Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, periode ini dicirikan oleh antusiasme investor yang berlebihan, yang dapat membuat perusahaan-perusahaan sejenis mendapatkan pendanaan besar tanpa disertai hasil praktis yang nyata, serta menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya gelembung tersebut. 

Di sisi lain, menurutnya, AI justru mengisi ruang pekerjaan yang tidak ingin dilakukan manusia, sehingga pasar ke depan akan tumbuh jauh lebih besar, "[dengan demikian] saya rasa kita justru belum cukup berinvestasi di AI," terang Ross. 

Data Center Palsu: Dibangun Tanpa Paham Kebutuhan Dasarnya

Di sisi lain, Ross menjawab perihal data center palsu ternyata menjadi salah satu tantangan di tengah booming infrastruktur AI global. Ross menceritakan, isu ini pertama kali ramai setelah sebuah klip wawancaranya untuk 20VC dengan Harry Stebbings kembali viral dan ditonton lebih dari 2,7 juta kali. 

Dalam klip tersebut, ia menyoroti banyaknya pengembang properti yang masuk ke bisnis pusat data tanpa memahami kebutuhan teknis fundamental.

"Saya sering berhadapan dengan apa yang saya sebut sebagai ‘data center palsu’. Banyak pelaku real estate berpikir bahwa data center hanyalah proyek real estate biasa. Mereka mengira, kalau mereka bisa membangun mal atau gedung lain, mereka juga bisa membangun data center," jelas Ross.

Ia menambahkan, "Lalu ketika diajak bicara, mereka bilang sudah menyiapkan daya 1 gigawatt dan mengklaim fasilitas itu bisa beroperasi dalam enam bulan."

Ia menyebut beberapa bahkan tidak mengetahui bahwa pusat data membutuhkan generator cadangan. "Dan saya akan seperti, oke, bagaimana Anda akan mendapatkan air untuknya [pusat data]? Dan mereka seperti, 'tunggu, data center butuh air?' Ya, mereka butuh air, seperti, di mana anda mendapatkan generator? 'Tunggu, anda membutuhkan generator? Saya pikir anda hanya menggunakan elektrik [listrik]'," ujarnya. 

Oleh karena itulah, menurutnya banyak proyek pusat data sekadar bangunan besar tanpa kesiapan teknis terkait daya, pendinginan, dan keandalan operasional, yang secara tidak langsung disebutnya sebagai data center palsu.

Pada bagian lain, namun masih pada kesempatan yang sama, pemerintah Australia tengah menyiapkan Rencana AI Nasional yang dijadwalkan meluncur pada akhir tahun ini, sebagai langkah strategis memperkuat posisi negara tersebut dalam ekosistem teknologi global.

Assistant Minister for Science, Technology, and the Digital Economy, The Hon Dr Andrew Charlton MP, mengatakan Australia memiliki modal kuat untuk menjadi pusat pengembangan AI di kawasan bahkan dunia.

Menurutnya, Australia saat ini telah menjadi salah satu destinasi investasi data center terbesar secara global, berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat. 

Hal ini didorong sejumlah faktor strategis, mulai dari ketersediaan lahan luas, akses energi yang terus berkembang, tenaga kerja berkualitas tinggi, biaya konstruksi relatif rendah, hingga regulasi yang stabil dan dipercaya mitra internasional.

"Australia berpotensi menjadi rumah alami bagi pengembangan kemampuan ini. Australia sudah menjadi salah satu destinasi utama investasi data center secara global, berada di posisi kedua setelah Amerika Serikat," ujar Charlton.

Lebih lanjut, Charlton menekankan untuk mengoptimalkan seluruh potensi tersebut, Australia membutuhkan infrastruktur yang memadai, kemitraan strategis, serta kerangka kebijakan yang tepat. Karena itu, pemerintah sedang merampungkan Rencana AI Nasional sebagai panduan ambisi negara di sektor tersebut. Namun, Charlton menegaskan pemerintah tidak menunggu rencana tersebut rampung untuk mulai bergerak. 

Sebab, Australia telah lebih dulu berinvestasi dalam pengembangan kemampuan AI melalui berbagai program industri, termasuk pendanaan dari National Reconstruction Fund, serta mendukung proyek-proyek strategis yang dianggap penting bagi kepentingan nasional.

"Rencana kita untuk AI akan membangun investasi ini, dan kita ingin memastikan bahwa kita menyediakan salah satu lingkungan yang terbaik dan mendukung untuk investasi seperti ini di dunia yang konsisten dengan kepentingan nasional Australia," pungkas dia.

(wep)

No more pages