“Game itu ada manfaatnya. Itu sudah jadi diskusi akademik yang panjang—game sebagai media pendidikan. Tetapi game yang tidak diawasi menjadi masalah tersendiri,” ujarnya.
Pernyataan Mu’ti ini muncul di tengah sorotan publik atas insiden ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025). Ledakan yang terjadi di dalam area masjid sekolah itu menewaskan satu siswa dan melukai puluhan lainnya. Peristiwa tersebut memunculkan kekhawatiran soal paparan konten kekerasan dan eksperimen berbahaya di kalangan remaja.
Mu’ti menilai, pengawasan anak dalam penggunaan gawai masih menjadi tantangan besar. Banyak pelajar bermain gim sendirian tanpa pantauan, sehingga berpotensi meniru atau terinspirasi dari kekerasan digital yang mereka konsumsi.
“Kami ingin masalah ini diselesaikan bersama. Pendekatannya harus menyentuh aspek pendidikan, keluarga, hingga kesehatan mental anak,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo Subianto menilai permainan dengan cara berani atau game online . Kajian dilakukan berkaca dari peristiwa ledakan di sekolah dan masjid SMAN 72 Kelapa Gading akhir pekan lalu.
Meski belum diketahui pasti pasti motif pelaku ledakan, pemerintah tidak menutup kemungkinan gim secara berani memberikan pengaruh kepada generasi muda. Misalnya, gim PlayerUnknown's Battlegrounds atau PUBG, gim video bergenre battle royale , di mana 100 pemain bertarung hingga menjadi orang terakhir yang bertahan hidup.
"Misalnya PUBG. Kita mungkin berpikirnya ada mengambil-pembatasan ya, di situ kan jenis-jenis senjata, juga mudah sekali untuk dipelajari, lebih berbahaya lagi. Ini kan secara psikologis terbiasa melakukan, yang namanya kekerasan itu sebagai sesuatu yang mungkin menjadi biasa saja," ujar Prasetyo kepada awak media, dikutip Senin (10/11/2025).
(dec/spt)





























