Mukhtarudin menilai, angka ini terbilang masih jauh tertinggal dari negara lainnya, seperti Filipina, yang di tahun sebelumnya mencapai Rp600 triliun.
Hal ini terjadi sebab Filipina memiliki sistem pekerja migran yang lebih terstruktur. Bahkan, edukasi tentang pekerja migran sejak Sekolah Dasar (SD) sudah terkurikulum. Sementara Indonesia baru memulai pembenahan sistem tersebut.
Salah satu langkah yang tengah dilakukan pemerintah ialah melalui pembentukan Sekolah Rakyat (SR) yang akan terintegrasi dengan kelas migran.
"Ada Migran Center di 6 Perguruan Tinggi, mereka juga ada kelas migran. Nanti kita akan tampak ada dua lagi yang akan di launching adalah Migran Center Unhas dengan Pasim Bandung. Migran Center. Dengan Sekolah Rakyat nanti kita akan insert kurikulum silabus tentang kelas migran," tuturnya.
(lav)































