Adapun teori mengenai Agartha sendiri di mulai pada abad ke-19, lewat munculnya teori Bumi Berongga. Teori menyebutkan, bumi berisi ruang-ruang interior yang lus dan menyembunyikan peradaban yang maju. Para pendukung awal gagasan ini, seperti John Cleves Symmes Jr. dan Cyrus Teed, berpendapat, pintu masuk ke dunia-dunia bagian dalam ini dapat ditemukan di kutub-kutubnya.
Sementara legenda Agartha secara modern diperkenalkan dari gerakan spiritual yang didirikan oleh Helena Blavatsky pada akhir abad ke-19.
Melalui tulisan-tulisannya, Blavatsky sering menyebutkan kota-kota mistis di bawah permukaan Bumi, dan menggambarkannya sebagai pusat kebijaksanaan kuno dan kekuatan spiritual. Ia dan para pengikutnya, seperti William Scott-Elliot, mengembangkan gagasan-gagasan ini, menggambarkan Agartha sebagai masyarakat utopis yang dibimbing oleh makhluk-makhluk tercerahkan.
Agartha dalam Dunia Modern
Meski belum ada bukti kuat mengenai keberadaan Agartha itu sendiri, tetapi penyebutan Agartha sebagai alam di bawah tanah muncul dalam buku Les Fils du Dieu (Putra-Putra Dewa) karya Louis Jacolliot tahun 1873. Dalam buku ini, pria Prancis itu mengklaim bahwa teman-teman Brahmana-nya dari Chandernagore, India, telah menceritakan kisah "Asgartha" kepadanya.
Menurut mereka, Agartha adalah kota kuno yang telah dihancurkan hampir 5.000 tahun yang lalu, tepat sebelum Kali Yuga (Yuga keempat, terpendek, dan terburuk dalam siklus Yuga Hindu).
Menariknya, setelah melewati masa Jacolliot, pada perang dunia II, para okultis Nazi dalam beberapa literatur disebut menunjukkan minatnya terhadap Agartha. Bahkan, anggota Thule Society--sebuah kelompok rahasia yang sangat tertarik pada mitologi Arya dan okultisme, meyakini keberadaan Agartha.
Nazi bahkan disebut menggunakan kisah Agartha untuk memperkuat keyakinan rasis mereka. Mereka berspekulasi Agartha merupakan rumah bagi sisa-sisa ras Arya kuno yang super dengan teknologi dan pengetahuan canggih. Beberapa dari mereka bahkan mengusulkan ekspedisi untuk menemukan pintu masuk ke negeri ajaib rasis ini, terutama di wilayah kutub.
Meski Nazi sendiri pun tidak pernah menemukan Agartha, tetapi minat budaya modern terhadapnya tidak pernah hilang sepenuhnya. Legenda ini terus berkembang, terutama karena orang-orang cenderung menyamakannya dengan kerajaan spiritual Buddha Shambhala yang legendaris dari ajaran Buddha Vajrayana dan Kalacakra Tibet.
(prc/frg)






























