Logo Bloomberg Technoz

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memperkirakan konsumsi LPG domestik bakal bergerak ke level 10 juta ton pada 2026.

Bahlil membeberkan kenaikan konsumsi LPG itu disebabkan karena beroperasinya pabrik petrokimia PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) awal bulan ini.

Dia mengatakan pabrik Lotte itu bakal menyerap LPG sebagai bahan baku selain naptha, dengan porsi mencapai 50%. Menurut dia, Lotte memerlukan pasokan LPG sekitar 1,2 juta ton per tahun.

“Maka konsumsi kita nanti ke depan di 2026 itu sudah mencapai hampir 10 juta ton LPG,” kata Bahlil usai menghadiri rapat percepatan hilirisasi di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/11/2025).

Dengan meningkatnya kebutuhan LPG tersebut, Bahlil menyatakan Indonesia harus segera bersiap meningkatkan produksi gas minyak cair.

Adapun, impor LPG Indonesia sepanjang 2024 mencapai 6,89 juta ton dengan nilai mencapai US$3,78 miliar. Porsi impor LPG dari Amerika Serikat mencapai 3,94 juta ton, dengan nilai impor US$2,03 miliar. 

Selain AS, Indonesia mengimpor LPG dari Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Arab Saudi hingga Algeria. 

Di sisi lain, Bahlil mengatakan, pemerintah turut mendorong proyek gasifikasi batu bara menjadi DME, sebagai substitusi LPG.

“Menjadikan sebagai substitusi impor, salah satu di antaranya adalah menyangkut dengan DME,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan pabrik petrokimia new ethylene project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten, Kamis (6/11/2025).

Pabrik tersebut diklaim dapat menekan impor minyak dan gas (migas) mencapai US$1,4 miliar atau sekitar Rp23,42 triliun (asumsi kurs Rp16.729).

Pabrik petrokimia itu dapat menghasilkan produk hilirisasi migas senilai US$2 miliar per tahun atau sekitar Rp33,46 triliun.

Dari besaran tersebut, US$1,4 miliar diantaranya atau sekitar Rp23,42 triliun merupakan substitusi impor dan US$600 juta atau sekitar Rp10,04 triliun berkontribusi pada peningkatan ekspor Indonesia.

“Dari total kapasitas produksi 70% akan dipasarkan di dalam negeri, dan 30% di luar negeri. Jadi selama ini kita impor, dengan pabrik ini kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun sebelumnya,” kata Bahlil.

Proyek besutan perusahaan asal Korea Selatan tersebut memiliki nilai investasi US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun.

Pabrik tersebut mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kiloton per tahun (KTA), disertai tambahan LPG sebesar 0%—50% sebagai bahan pendukung.

(azr/wdh)

No more pages