“[Sebanyak] 70% subsidi impor dan 30% Impor, total jualannya per tahun US$2 milia, jadi US$1,4 disini sisanya kita ekspor,” ucap Bahlil.
Proyek besutan perusahaan asal Korea Selatan tersebut memiliki nilai investasi US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun.
Pabrik tersebut mampu mengolah bahan baku naphta sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), disertai tambahan gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) sebesar 0%—50% sebagai bahan pendukung.
Dari bahan baku tersebut, naphta diolah menjadi produk hulu antara lain; ethylene sebesar 1.000 kTA, propylene sebesar 520 kTA, mixed C4 sebesar 320 kTA, pyrolysis gasoline sebesar 675 kTA, pyrolysis fuel oil sebesar 26 kTA, dan hydrogen sebesar 45 kTA.
Sementara itu, produk hilirnya terdiri atas; high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.
Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, peralatan medis, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, dan cat.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, proyek tersebut diklaim dapat mengurangi ketergantungan impor produk petrokimia, di mana saat ini lebih dari 50% kebutuhan nasional masih dipenuhi dari luar negeri.
Selain itu, Kementerian ESDM mengestimasikan proyek tersebut dapat menciptakan lapangan kerja sekitar 40 ribu tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung selama tahap konstruksi dan operasional.
Sempat Mangkrak
Untuk diketahui, pabrik itu sempat mangkrak sejak 2016. Namun kini, proyek kompleks petrokimia ini telah memulai pekerjaan konstruksinya pada 2022, dan saat ini progres pembangunan telah mencapai 97,8% dan diharapkan pada Maret 2025 sudah bisa memulai produksi dan bulan Mei 2025 sudah bisa melakukan ekspor.
Dalam sebuah kesempatan, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyebut pembangunan pabrik PT Lotte Chemical Indonesia (PTLCI) di Cilegon, Banten sempat terkendala oleh berbagai perizinan.
"Memang pembangunannya sudah dimulai, groundbreaking-nya pada 2018, tetapi memang [sebelummya itu] ada masalah pertanahan yang alhamdulillah ini sudah beres, sudah settle sehingga pembangunan bisa dilanjutkan lagi dan [pabrik] bisa akan selesai pada awal 2025," kata Rosan.
(azr/wdh)




























