Logo Bloomberg Technoz

“Akan tetapi, kemungkinan karena proyeknya banyak yang baik secara economic return ada juga yang bisa minta boleh enggak kami 50%, 51% atau lebih,” ucap Pandu.

Di sisi lain, Pandu menargetkan setiap proyek PLTSa memenuhi dua aspek keekonomian yakni internal rate of return (IRR) atau tingkat pengembalian investasi dan dampak sosial ekonomi atau social return on investment (SROI).

Pandu mengklaim, proyek PLTSa di Indonesia memiliki IRR dibawah 10% jika dikonversi ke dalam kurs dolar Amerika Serikat (AS). Akan tetapi, angka tersebut dinilai menarik sehingga diminati hingga 200 perusahaan.

Terkait dengan dampak sosial ekonomi dari proyek tersebut, Pandu menjelaskan proyek PLTSa memang difokuskan untuk mengatasi masalah lingkungan yakni tidak terkelolanya sampah di Indonesia.

“WtE [waste to energy] ini memang kita fokus kepada yang tadi saya sebut economic return.Baik dari sisi masalah lingkungan, job creation, dan yang seterusnya. Namun, juga enggak bisa kita, commercial return kita, di bawah cost of capital kita,” ucap Pandu.

Dengan demikian, Pandu mengklaim proyek tersebut memiliki perhitungan ekonomi yang matang dengan tingkat pengembalian atau return yang kompetitif. Hal tersebut, menurutnya tercermin dengan tingginya minat perusahaan untuk mendaftar menjadi calon mitra proyek tersebut.

Terlebih, lanjut dia, akan terdapat konsorsium yang dibentuk oleh calon mitra teknologi proyek tersebut bersama perusahaan lokal.

Makanya, kita di situ menyebut ada JV [joint venture]. Kita selalu ada private sector. Karena private sector pasti ingin untung kan? Makanya kita bilang tadi, contohnya, ada 200 yang apply pertama. Sekarang kita udah 24 yang sudah lolos hampir tahap terakhir ini,” ungkap dia.

Enggak mungkin rendah dong. Poinnya,karena ini kan supply demand. Saya tahu kita ada 7 proyek, sekarang kita mulai, nanti akan ada 34 proyek. Only for the first 7 saja. Sebanyak itu interest-nya,” tegas dia.

Dalam kesempatan yang sama, Pandu mengungkapkan terdapat sejumlah skema pendanaan yang bisa ditempuh untuk membiayai proyek PLTSa, termasuk pembiayaan dari modal (equity) Danantara hingga kredit yang disalurkan perbankan dalam negeri hingga luar negeri.

Dia menyebut, umumnya sebuah proyek mendapatkan pendanaan sebesar 30% dari ekuitas pemilik saham dan 70% dari hutang. Dalam proyek PLTSa, Pandu memang belum menungkapkan ramuan pendanaan proyek tersebut.

Akan tetapi, dia mengklaim terdapat perbankan asing dan dalam negeri yang berminat mendanai proyek pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) tersebut.

Untuk diketahui, sejumlah proyek PLTSa yang akan dilelang pada putaran pertama pada 6 November 2025 di antaranya DKI Jakarta, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bali dan Makassar.

Rencanannya, setiap pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) akan mengolah sampah minimal 1.000 ton per hari untuk menghasilkan minimal 15 megawatt (MW) listrik bagi 20.000 rumah tangga. Setiap unit proyek tersebut membutuhkan 4—5 hektare (ha) lahan.

Sampai dengan pertengahan tahun ini, Danantara membeberkan, Indonesia menghasilkan sekitar 35 juta ton sampah setiap tahunnya.

Produksi sampah itu setara dengan 16.5000 lapangan bola atau mampu menutupi seluruh wilayah Jakarta dengan ketinggian mencapai 20 sentimeter.

Sementara itu, dari total 35 juta ton sampah yang dihasilkan setiap tahunnya, hanya 61% sampah yang berhasil dikelola.

(azr/wdh)

No more pages