Ia menekankan, efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas menjadi fokus utama perusahaan di tengah fluktuasi harga global. “Harga tidak bisa kami kontrol. Yang bisa kami kendalikan adalah efisiensi biaya dan produktivitas,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor kelapa sawit dan turunannya sepanjang 2024 mencapai 21,60 juta ton, turun 17,33% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai ekspornya juga terkoreksi 11,78% menjadi US$20 miliar.
Manajemen AALI dalam laporan tahunannya menyebut, pelemahan tersebut sejalan dengan program biodiesel pemerintah yang meningkat secara bertahap untuk mencapai target swasembada energi.
Pemerintah Siapkan Skema DMO Baru
Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah menyiapkan opsi penerapan DMO khusus minyak sawit untuk bahan baku biodiesel. Kebijakan ini akan berjalan beriringan dengan rencana pemangkasan ekspor crude palm oil (CPO) sebesar 5,3 juta ton guna mendukung program B50.
Menurut Bahlil, apabila opsi pemangkasan ekspor dipilih, pemerintah akan menyiapkan mekanisme pengaturan pasokan minyak sawit antara kebutuhan dalam negeri dan ekspor.
“Kalau alternatif ketiga yang dipakai, memangkas sebagian ekspor, maka salah satu opsinya adalah mengatur antara kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. Itu di dalamnya adalah salah satu instrumennya DMO,” kata Bahlil di kantor Kementerian ESDM, Selasa (14/10/2025).
Bahlil menambahkan, program biodiesel B50 ditargetkan mulai diimplementasikan pada semester II-2026 setelah pengetesan bahan bakar nabati rampung.
Saat ini, kebijakan DMO untuk CPO baru diberlakukan untuk kebutuhan minyak goreng dengan rasio 1:4 yaitu setiap satu ton CPO yang disalurkan ke dalam negeri, produsen dapat mengekspor empat ton.
(dhf)































