Logo Bloomberg Technoz

Pendapatan AALI terutama ditopang oleh segmen minyak sawit mentah (CPO) beserta produk turunannya, yang menyumbang Rp19,82 triliun. Segmen inti sawit dan turunannya memberikan kontribusi Rp2,25 triliun, sementara segmen lain tercatat menyumbang Rp41,13 miliar.

Beban pokok pendapatan perusahaan meningkat menjadi Rp18,85 triliun per September 2025, dari Rp14,28 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, laba bruto naik 62,65% secara tahunan menjadi Rp3,26 triliun, dibandingkan Rp2 triliun pada kuartal ketiga 2024.

Sementara itu, laba bersih yang menjadi hak pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp1,07 triliun hingga akhir September 2025, meningkat 33,57% dibandingkan Rp801,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Siapkan Rp320 Miliar untuk Proyek Methane Capture

Di sisi lain, Sejalan dengan komitmen keberlanjutan, AALI menyiapkan investasi sekitar Rp320 miliar untuk membangun delapan unit fasilitas methane capture di sejumlah pabrik kelapa sawit. Setiap unit diperkirakan menelan biaya Rp30–40 miliar, tergantung kondisi lokasi dan kapasitas.  

Teknologi ini mampu mengurangi sekitar 35.000 ton emisi CO₂ per unit. Saat ini dua fasilitas telah beroperasi di Riau, sementara satu lagi di Sulawesi Tengah ditargetkan commissioning pada akhir tahun ini.  

“Target kami membangun sepuluh unit hingga 2030, dan secara bertahap seluruh 31 pabrik akan dilengkapi methane capture,” kata Djap. 

AALI menargetkan pembangunan total 10 fasilitas penangkap metana hingga 2030, dengan sasaran pengurangan emisi mencapai 356.000 ton karbon.

Djap menekankan bahwa fokus utama perusahaan hingga 2030 adalah berkomitmen mengurangi emisi karbon sebesar 30%.

(dhf)

No more pages