Para pejabat The Fed memangkas suku bunga kedua berturut-turut untuk menopang pasar tenaga kerja yang melemah. Mereka juga akan menghentikan pengurangan portofolio aset pada 1 Desember.
Anggota Dewan Gubernur Stephen Miran kembali menentang keputusan The Fed, mendukung pemotongan lebih besar. Gubernur The Fed Kansas City, Jeff Schmid lebih memilih untuk tidak memotong suku bunga sama sekali.
"Pada saat pasar sedang bergejolak, The Fed memutuskan pelemahan pasar tenaga kerja menjadi perhatian lebih besar daripada keketatan inflasi," kata Jack McIntyre dari Brandywine Global. "Yang kurang masuk akal, beragamnya perbedaan pendapat. Perbedaan ini berarti rasa aman di pasar keuangan kurang, volatilitas meningkat, dan lebih banyak arus dua arah."
Di Asia, investor akan memperhatikan serangkaian peristiwa pada Kamis (30/10/2025), termasuk pertemuan kebijakan Bank of Japan (BOJ) dan peluang pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump.
Sentimen pasar mungkin membaik karena Trump dan Xi akan menuntaskan perjanjian damai saat bertemu di Korea Selatan hari ini, yang akan menunda perang dagang terbesar di dunia—setidaknya untuk saat ini.
Pembelian dua kargo kedelai AS oleh China—kali pertama musim ini—mengisyaratkan aliran perdagangan kembali normal berdasarkan perjanjian lebih luas yang dapat mencabut beberapa tarif dan pembatasan ekspor baru-baru ini.
Sementara itu, BOJ secara umum diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan sebesar 0,5% Kamis ini dalam pertemuan kebijakan pertamanya sejak Sanae Takaichi, pendukung pelonggaran moneter, menjadi perdana menteri pekan lalu.
Hampir semua ekonom dalam survei Bloomberg memperkirakan kenaikan suku bunga pada Desember atau Januari. Sehingga, para pengamat BOJ akan menganalisis pernyataan Gubernur Kazuo Ueda untuk mencari petunjuk kapan kenaikan itu akan terjadi.
"Sinyal hawkish apa pun dapat mendorong pasar untuk mempercepat ekspektasi kenaikan suku bunga," tulis Carol Kong dan Samara Hammoud, ahli strategi Commonwealth Bank of Australia, dalam catatannya. "BOJ yang hawkish juga akan menekan USD/JPY, di mana pasar hanya memperkirakan peluang kecil kenaikan 25 basis poin sebelum akhir tahun."
Di kawasan lain, saham Korea Selatan (Korsel) akan menjadi fokus setelah won menguat 0,8% dalam perdagangan semalam, tertinggi sejak Agustus. Pasalnya, Trump dan Presiden Korsel Lee Jae Myung menandatangani kesepakatan dagang setelah berbulan-bulan negosiasi mengenai implementasi perjanjian kerangka kerja.
Kesepakatan ini akan membuat Seoul berinvestasi sebesar US$150 miliar dalam industri galangan kapal, dengan tambahan US$200 miliar dialokasikan untuk janji investasi, dan AS membatasi tarif untuk barang-barang Korsel sebesar 15%.
Di pasar komoditas, harga minyak naik, mengakhiri penurunan tiga hari berturut-turut, seiring investor memperhitungkan penurunan tajam cadangan minyak AS dan dampak sanksi Barat terhadap produsen minyak mentah utama Rusia. Harga emas memangkas kenaikan, merespons komentar Powell.
Beberapa pergerakan utama di pasar:
Saham
- S&P 500 turun 0,1% pada pukul 07.38 waktu Tokyo
- Hang Seng tidak berubah
- S&P/ASX 200 turun 0,4%
Mata Uang
- Indeks Dolar Spot Bloomberg sedikit berubah
- Euro sedikit berubah ke level US$1,1602
- Yen Jepang sedikit berubah menjadi 152,72 per dolar
- Yuan offshore sedikit berubah menjadi 7,0963 per dolar
- Dolar Australia sedikit berubah menjadi US$0,6570
Kripto
- Bitcoin turun 0,2% menjadi US$111.181,15
- Ether turun 0,4% menjadi US$3.937
Obligasi
- Imbal hasil obligasi Australia bertenor 10 tahun naik delapan basis poin menjadi 4,30%
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,3% menjadi US$60,27 per barel
- Emas spot naik 0,2% menjadi US$3.937,29 per troy ons
(bbn)


























