Logo Bloomberg Technoz

Rusia diperkirakan akan mengalami tekanan terhadap anggaran negaranya, namun menurut seorang pejabat dekat Kremlin, Moskow akan memanfaatkan jaringan pedagang dan armada kapal bayangan untuk mengurangi dampak finansial. Rosneft, yang dipimpin sekutu dekat Presiden Vladimir Putin, Igor Sechin, dan Lukoil merupakan dua produsen minyak terbesar di Rusia.

“Faktor utama beberapa minggu ke depan adalah data aktivitas pengiriman. Jika terlihat tanda-tanda penghentian mendadak atau perlambatan tajam ekspor Rusia, harga minyak bisa naik lebih tinggi lagi,” ujar Robert Rennie, Kepala Riset Komoditas dan Karbon di Westpac Banking Corp.

Uni Eropa turut menambah tekanan terhadap Moskow dengan paket sanksi baru yang menargetkan infrastruktur energi Rusia. Negara itu juga terus menghadapi serangan rutin dari Ukraina terhadap kilang, pipa, dan terminal ekspornya. Pada Kamis, Kyiv mengklaim berhasil menyerang salah satu kilang Rosneft.

Trump sebelumnya menahan diri untuk tidak menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Rusia, namun stagnasi dalam penyelesaian konflik Ukraina memicu perubahan sikap besar. Langkah ini menandai pergeseran kebijakan Barat yang sebelumnya berupaya membatasi pendapatan Kremlin melalui mekanisme batas harga (price cap) tanpa mengganggu pasokan global atau memicu lonjakan harga.

Sebelum sanksi, selisih harga antara kontrak Brent bulan depan dengan kontrak bulan berikutnya — dikenal sebagai prompt spread — sempat menyempit karena sinyal kelebihan pasokan global. Namun, setelah sanksi diumumkan, selisih tersebut kembali melebar, menandakan struktur pasar yang bullish.

Harga:

  • Brent untuk pengiriman Desember stabil di US$65,89 per barel pada pukul 08.28 waktu Singapura. Harga naik 7,5% sepanjang pekan ini.
  • WTI untuk pengiriman Desember sedikit berubah di US$61,71 per barel.

(bbn)

No more pages