Ia menambahkan, pembahasan mengenai kemungkinan pemisahan pengelolaan infrastruktur dan operasional termasuk opsi menjadikan infrastruktur sebagai Badan Layanan Umum (BLU) masih dikaji bersama pemerintah. Menurutnya, setiap alternatif memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan keputusan akhir akan diambil berdasarkan hasil kajian komprehensif.
Dony menargetkan kesepakatan restrukturisasi pinjaman dengan pihak China dapat diselesaikan tahun ini. Ia menilai prosesnya tidak akan terlalu kompleks karena secara korporasi, KCIC sudah menunjukkan kinerja keuangan yang stabil.
“Masalahnya tinggal bagaimana mekanisme pembayaran cicilan disepakati. Secara bisnis tidak terlalu rumit, dan kami pastikan akan selesai tahun ini,” tegasnya.
Negosiasi dilakukan bersama tim gabungan yang terdiri atas perwakilan pemerintah dan Danantara. Pihak Danantara berperan menyiapkan data dan struktur pembiayaan terbaik agar perusahaan tetap berkelanjutan, sementara tim pemerintah memimpin pembicaraan strategis dengan pihak China.
Utang Whoosh
Mega proyek kereta cepat ini memiliki nilai investasinya semula diperkirakan sekitar US$6 miliar kini membengkak hingga US$7,27 miliar atau lebih dari Rp115 triliun. Sekitar 75% pembiayaan berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), dengan tenor panjang hingga 40 tahun, sedangkan sisanya 25% dari modal konsorsium pemegang saham.
Dari sisi pembiayaan, pinjaman utama dikenakan bunga sekitar 2% per tahun, sementara dana tambahan akibat pembengkakan biaya (cost overrun) mencapai 3,4%. Dengan total pinjaman sekitar US$4,55 miliar, beban bunga tahunan proyek ini mendekati US$120 juta atau sekitar Rp1,9 triliun, angka yang sangat besar bagi proyek yang baru beroperasi.
Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) saat itu, Didiek Hartantyo, pernah menjelaskan bahwa pinjaman proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung dari China Development Bank (CDB) memiliki dua skema bunga, tergantung pada denominasi pinjamannya.
Dari total utang sebesar US$542,7 juta, sekitar US$325,6 juta (setara Rp5,04 triliun) berbentuk pinjaman dalam denominasi dolar AS dengan bunga 3,2%, sementara sisanya US$217 juta (sekitar Rp3,36 triliun) dalam denominasi yuan (RMB) dengan bunga 3,1%. Keduanya memiliki tingkat bunga tetap (flat rate) untuk jangka waktu 45 tahun.
(dhf)































