Dicky menjelaskan, beberapa laporan menunjukkan adanya antibodi terhadap IDV pada kelompok masyarakat yang sering berinteraksi dengan hewan ternak, terutama peternak sapi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa data tersebut masih perlu diteliti lebih jauh untuk memastikan validitasnya.
“Beberapa media asing menyebut angka paparan manusia mencapai 70 hingga 74% di satu wilayah, tapi data itu belum bisa disimpulkan secara ilmiah karena metode penelitiannya belum jelas dan belum representatif,” katanya.
Karena itu, ia meminta masyarakat dan pemerintah untuk tetap tenang namun waspada. Menurutnya, Influenza D memiliki potensi zoonosis seperti halnya Flu Burung atau virus Nipah, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda akan menjadi pandemi. “Saat ini belum ada bukti epidemi besar pada manusia. Namun, kita harus tetap waspada karena virus ini terus berevolusi,” ujarnya.
Dicky menekankan pentingnya memperkuat sistem pengawasan penyakit hewan dan kolaborasi lintas sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. “Pendekatan One Health harus terus dijalankan agar potensi wabah dari hewan ke manusia bisa dicegah sedini mungkin,” pungkasnya.
(dec/spt)






























