"Efek cost-nya harus ditekan. Supaya apa? Kalau bisa ditekan, maka swasta punya peluang untuk melakukan fundraising di capital market dengan cost yang lebih rendah," kata dia.
"Kalau mereka bisa punya ruang itu, akan bisa untuk membantu mendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi swasta."
Hanya saja, Sunarsip menggarisbawahi upaya pemerintah dalam menekan cost-of fund tersebut juga turut harus diiringi dengan pembenahan teknis dalam berinvestasi di dalam negeri, termasuk menjalankan proyek (debottlenecking).
Langkah debottlenecking tersebut diharapkan tidak hanya menyasar kepada aspek regulasi saja, melainkan juga lebih dalam lewat aspek teknis yang kerap menghantui korporasi swasta dalam risiko berbisnisnya.
"Kenapa kredit perbankan telat tumbuh? Kalau kita amati, satu karena faktor tadi, cost of fund masih tinggi, yang kemudian sebabkan swasta enggan tarik kredit dari perbankan. Ada juga scaring effect dari pandemi Covid-19 masih menghantui pelaku usaha kita, utamanya UMKM. Mereka masih kejebak dengan status kredit macet, ketika di mau pinjem dia ga bisa lagi. Makanya isu teknis ini perlu diselesaikan," kata dia.
(ain)





























