Oleh karena itu, Presiden Prabowo menugaskan Menteri Diktisaintek untuk mencetak SDM berkualitas yang mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor strategis tersebut.
Penyiapan SDM ini ditujukan khusus untuk; Hilirisasi dengan mempersiapkan tenaga ahli yang mampu mendukung proses pengolahan sumber daya alam. Sedangkan pengawakan program besar ditujukan untuk mengisi kebutuhan SDM pada proyek-proyek strategis di sektor perkebunan dan kelautan.
"Bapak Presiden menugaskan khusus kepada Menteri Diktisaintek, untuk mempersiapkan sumber daya manusia tersebut," tegas Prasetyo, menandakan prioritas tinggi pemerintah dalam memastikan ketersediaan tenaga kerja terampil, terutama untuk menjalankan transformasi ekonomi yang berbasis nilai tambah.
Sebelumnya pengembangan SDM dengan basis STEM dilakukan melalui Sekolah Garuda sebagai program pengembangan pendidikan di Indonesia. Inisiatif ini terdiri atas dua skema, yakni Sekolah Garuda Baru dan Sekolah Garuda Transformasi.
Program Sekolah Garuda telah diperkenalkan secara serentak di 16 lokasi di seluruh Indonesia. Inisiatif ini terdiri dari dua komponen utama: 12 lokasi difokuskan untuk Sekolah Garuda Transformasi dan empat titik untuk pembangunan Sekolah Garuda Baru.
Sekolah Garuda Transformasi bertujuan memperkuat SMA/MA yang sudah ada, seperti SMAN Unggulan MH Thamrin di Jakarta Timur, agar mampu mencapai standar pendidikan kelas dunia. Sementara itu, Sekolah Garuda Baru dibangun dari awal di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), serta daerah yang mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan unggul.
Sekolah baru ini dirancang dengan konsep pembelajaran inklusif, kurikulum berbasis data, dan fasilitas yang efisien. Pemerintah menargetkan pembangunan 20 Sekolah Garuda Baru hingga tahun 2029, dengan empat unit akan mulai dibangun pada tahun 2025 dan beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027. Selain itu, ditargetkan 80 Sekolah Garuda Transformasi akan terbentuk sampai tahun 2029.
(fik/spt)































