Dari Gelombang Laut ke Dapur Harapan
Kondisi sosial ekonomi masyarakat Kelurahan Kutawaru yang cukup kompleks mendapat perhatian dari KPI Unit Cilacap atau Kilang Cilacap, mengingat wilayah ini berada di kawasan Ring 1 kilang. Area Manager Communication, Relations, and CSR Kilang Cilacap, Cecep Supriyatna, menjelaskan bahwa pendekatan awal kepada warga Kutawaru telah dilakukan sejak tahun 2018.
“Kami mulai melakukan social mapping di Kutawaru dan menemukan adanya sejumlah permasalahan disana, diantaranya banyak mantan pekerja migran dan anak buah kapal yang hidup dalam kondisi kekurangan,” pungkas Cecep.
“Lokasi Kutawaru seperti tidak menyatu dengan Cilacap, padahal sebenarnya kelurahan itu masih di dalam Pulau Jawa,” jelas Cecep.
Melihat kompleksitas persoalan sosial dan ekonomi di Kutawaru, Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui Unit Cilacap menggagas Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perencanaan hingga pelatihan untuk meningkatkan keterampilan warga. Pada 2020, lahirlah Program Mamaku sebagai langkah konkret untuk memberdayakan masyarakat.
Kepemimpinan program dipercayakan kepada Rato, putra asli Kutawaru yang ditunjuk sebagai ketua kelompok sekaligus local hero. Ia bertugas mengorganisir warga agar terlibat aktif dalam berbagai kegiatan Mamaku, yang mencakup beberapa subprogram: Kampoeng Kepiting sebagai pusat wisata kuliner berbasis hasil laut, Bank Sampah Abhipraya yang fokus pada pengelolaan lingkungan, dan Pasar Amarta yang menggerakkan ekonomi lokal berbasis UMKM.
Menurut Rato, setidaknya 40 mantan ABK dan TKW kini aktif dalam program ini. Meski memiliki fokus berbeda, seluruh inisiatif diarahkan pada satu tujuan utama: mendorong kemandirian dan memperkuat perekonomian masyarakat Kutawaru. Kampoeng Kepiting sendiri menjadi ikon, tidak hanya sebagai sentra kuliner dengan menu kepiting khas, tetapi juga sebagai destinasi wisata terpadu yang mengangkat potensi daerah.
“Kampoeng Kepiting menjadi usaha yang terintegrasi, jadi disitu ada budidaya kepitingnya, ada wisatanya, ada kulinernya, termasuk susur sungai, pemancingan dan lain sebagainya,” tandas Rato.
“Jika digabungkan, dalam sebulan bisa mencapai Rp180 juta, masyarakat senang, sekarang anak-anak mereka bisa melanjutkan sekolah, karena orang tuanya setiap hari pegang uang,” ujar Rato.
Keberhasilan Program Mamaku tidak hanya mengangkat perekonomian warga Kutawaru, tetapi juga membawa perubahan nyata pada lingkungan. Jika sebelumnya jalan-jalan di kelurahan ini dipenuhi sampah dan bau menyengat, kini kawasan tersebut terlihat lebih hijau, bersih, dan segar. Melalui Bank Sampah Abhipraya, tingkat pencemaran lingkungan berhasil ditekan signifikan dengan pengurangan sampah mencapai 195 ton per tahun atau sekitar 80,93%.
“Keberhasilan ini bukan dari KPI tapi merupakan hasil buah pikiran dari kawan-kawan, para pendamping dan tentunya dari masyarakat Kutawaru sendiri. Program Mamaku membuktikan, keterbatasan bukan penghalang jika ada kemauan untuk berubah, dan KPI siap untuk menjadi mitra bagi masyarakat dalam mewujudkan itu semua,” pungkas Cecep.
(tim)





























