"Meskipun kenaikan harga ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi AS dan Pemerintahan AS memasuki hari kedua shutdown, arus dana institusional yang masif menunjukkan perubahan peran Bitcoin. Investor kini semakin memandang Bitocin sebagai macro hedge atau aset lindung nilai terhadap disfungsi politik dan risiko ekonomi," terang analis Ajaib, Panji Yudha.
Meski begitu posisi harga pada Senin pagi relatif melemah dari US$125.506, performa terbaik sepanjang sejarah hadirnya Bitcoin sejak 17 tahun lalu. Pada hari Minggu terjadi rekor volume perdagangan nyaris US$50 miliar dalam 24 jam terakhir, CoinGecko mencatat.
Token kripto paling berharga di dunia ini tercatat menguat dalam sembilan dari 10 bulan Oktober terakhir, menegaskan lagi adanya bulan bullish atau kerap disebut ‘Uptober’.
Bullish terjadi efek spekulasi investor yang beralih ke aset safe haven dan pada waktu bersamaan terjadi pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Terbukti lewat data CoinGlass, posisi short mencapai hampir US$100 juta dalam satu jam hari Minggu. Kemudian, lebih dari US$200 juta menjadi ‘forced buyers’ sepanjang 24 jam.
(far/wep)































