Logo Bloomberg Technoz

"Pasar akan membaca bahwa kebutuhan dolar Indonesia di masa depan akan meingkat, paling tidak terkait dengan pembayaran bunga. Ketiadaan ini yang menyebabkan rupiah terdepresiasi dalam satu minggu terakhir," jelas dia.

Dia pun menyarankan pemerintah untuk menerbitkan obligasi berdenominasi valas atau global bond, seperti obligasi berdenominasi dolas AS dari BUMN Pertamina maupun PLN, misalnya.

"Ini yang harus dikoherenkan, kalau memang akan ada dolar masuk ke Indonesia, pendalaman pasar juga harus dilakukan. Harus langsung ada prospek proyek dan pinjaman dolar."

Selain itu, dia juga meminta pemerintah untuk mengarahkan Bank-bank Himbara yang mendapatkan likuiditas dolar, untuk memberikan pinjaman ke pasar luar negeri yang membutuhkan dolar. Ini terkait juga dengan misi pengembangan BUMN perbankan selanjutnya.

Dia juga meminta kebijakan menaikkan bunga deposito dolas AS menjadi 4% untuk ditinjau ulang guna memperbaiki ekspektasi pasar. 

“Dolar rupiah di level 16,700 ini sudah overshooting,” ujar Fakhrul.

Sekadar catatan, pada Jumat (26/9/2025) pekan lalu, rupiah berada di level Rp16.755 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pasar spot. Mata uang Tanah Air terdepresiasi tipis 0,03% dari posisi kemarin. Namun seiring perjalanan pasar, depresiasi rupiah kian dalam. Pada pukul 09:04 WIB, rupiah melemah 0,21% ke Rp 16.785/US$.

Dalam perkembangannya hari ini, Senin (29/9/2025), nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan. Mata uang Ibu Pertiwi bahkan menjadi yang terkuat di Asia.

Pada Senin (29/9/2025), US$ 1 setara dengan Rp 16.700 kala pembukaan perdagangan pasar spot. Rupiah terapresiasi 0,24% dari penutupan akhir pekan lalu.

Seiring perjalanan pasar, rupiah makin kuat. Pada pukul 09:03 WIB, rupiah menguat 0,57% ke Rp 16.645/US$.

(lav)

No more pages