Logo Bloomberg Technoz

Dalam kesempatan itu, Bahlil menyatakan pagi ini telah berbincang dengan Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas. Dia mendapatkan laporan bahwa upaya evakuasi di tambang Grasberg masih terus dilanjutkan dan lima dari tujuh pekerja yang terampak longsor masih belum ditemukan.

Dia juga mengungkapkan terdapat tim dari Inspektur Tambang Freeport yang terus memantau proses evakuasi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave.

“Tim saya juga di sana, Direktur Inspektur Tambang, dan beberapa Inspektur Tambang lain ada di lokasi, di Tembagapura, melaporkan bahwa proses masih terus berjalan dan belum ada aktivitas apa apa. Itu menyangkut dengan kondisi Freeport yang sekarang terjadi,” ucap Bahlil.

Dalam kaitan itu, Bahlil mengklaim sejak terjadinya longsor di Grasberg Block Cave dia langsung berkoordinasi dengan manajemen Freeport Indonesia dan akhirnya memutuskan untuk menyetop seluruh aktivitas produksi tamban tersebut.

“Dan sekarang, sampai dengan hari ini, belum berproduksi. Tetap masih fokus untuk mencari saudara-saudara kita pekerjaan yang masih belum ditemukan,” ungkap dia.

Bahlil juga tak menampik bahwa penyetopan operasional tambang bawah tanah tersebut akan memberikan dampak terhadap pendapatan perusahaan, maupun yang disetorkan ke negara.

“Sudah barang tentu, kejadian ini, karena produksi dalam waktu hampir tiga minggu tidak terjadi, pasti berdampak pada produktivitas dan dampaknya juga kepada pendapatan, baik pendapatan daerah maupun pendapatan perusahaan,” ucap Bahlil.

Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Kementerian Perdagangan Andri Gilang Nugraha mengungkapkan Freeport tercatat telah mengekspor 1.298.801 wet metric ton (wmt) konsentrat tembaga atau setara 91,53% dari total kuota sebesar 1,4 juta wmt hingga Selasa (16/9/2025), atau saat izin ekspor konsentrat tersebut resmi habis.

“Realisasi ekspor konsentrat tembaga Freeport sampai dengan 16 September 2025 tercatat sebesar 1.298.801,58 wmt, atau sekitar 91,53% dari total kuota 1,4 juta wmt yang diberikan,” kata Andri ketika dimintai konfirmasi Bloomberg Technoz, baru-baru ini.

Hingga saat ini, kata Andri, Kemendag belum menerima pengajuan perpanjangan ekspor konsentrat tembaga yang dimohonkan oleh Freeport.

Dengan begitu, dia menegaskan izin ekspor konsentrat tembaga Freeport telah benar-benar berakhir per 16 September 2025.

Pada kesempatan terpisah sebelumnya, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan perseroan masih menunggu evaluasi yang akan dilakukan Kementerian ESDM terkait dengan kelanjutan ekspor konsentrat tersebut.

Menurut Tony, relaksasi ekspor yang akan berakhir pada 16 September 2025 itu mesti mendapat evaluasi dari Ditjen Minerba Kementerian ESDM terkait dengan kelanjutan kebijakan ekspor PTFI nantinya.

“Jadi sesuai dengan kepmen [keputusan menteri], memang akan dievaluasi pada saat mau berakhirnya. Itu yang kita tunggu hasil evaluasi dari pemerintah,” kata Tony ditemui, Rabu (27/8/2025).

Kendati demikan, Tony menargetkan, PTFI bisa mengoptimalkan ekspor konsentrat mencapai sekitar 90% dari kuota yang diberikan sebelum tenggat izin berakhir.

Sekadar catatan, izin ekspor konsentrat tembaga Freeport diberikan selama enam bulan yakni sejak 17 Maret 2025 hingga 16 September 2025.

Freeport diizinkan untuk melanjutkan ekspor konsentrat tembaga pada 2025, setelah perseroan menghadapi keadaan kahar akibat smelter katodanya di Manyar, Gresik, Jawa Timur terbakar pada 14 Oktober 2024.

(azr/wdh)

No more pages