Tekanan yang dialami oleh mata uang Asia terjadi ketika indeks dolar AS, atau DXY, bergerak melemah tipis 0,07% ke level 97,269.
Terpelesetnya rupiah di zona merah sepanjang hari berlangsung saat pasar global cenderung meningkatkan kehati–hatiannya menantikan pandangan terbaru dari pejabat Federal Reserve terkait arah pelonggaran ke depan.
Seperti yang diberitakan Bloomberg, Gubernur The Fed Jerome Powell, Gubernur The Fed Atlanta Raphael Bostic, dan Gubernur The Fed Michelle Bowman diagendakan bakal berpidato pada Selasa malam setempat.
“Meski kami melihat adanya potensi rebound jangka pendek pada USD, kami percaya dolar dapat terus melemah secara bertahap seiring pemangkasan suku bunga The Fed dan memudarnya keunggulan AS dalam jangka menengah,” tulis analis Maybank termasuk Saktiandi Supaat dalam sebuah catatan.
“Fokus pasar akan tetap tertuju pada perkembangan data di AS, dengan data pasar tenaga kerja dan inflasi kemungkinan menjadi faktor yang paling vital,” tambahnya.
Dari dalam negeri, para investor mencermati kedisiplinan fiskal dari berbagai langkah Bendahara Negara, Menteri Keuangan, dan independensi Bank Indonesia.
“Kami memperkirakan Bank Indonesia akan membiarkan rupiah berfungsi sebagai penyangga guncangan, namun tetap mengendalikan laju depresiasi bila pergerakannya terlalu cepat atau terlalu volatil,” tulis Ahli Strategi Valas dari Barclays, Audrey Ong dan Mitul Kotecha, dalam sebuah catatan, mengutip Bloomberg.
Mereka menilai rupiah bisa berkinerja lebih lemah dibanding mata uang sejenis (peers), biarpun dolar kemungkinan tetap melemah. Barclays memprediksi USD/IDR akan bergerak di rentang Rp16.600–16.900/US$ dalam tren satu tahun.
(fad/wep)































