Logo Bloomberg Technoz

Situasi itu membuat laba periode berjalan MIND ID sepanjang paruh pertama 2025 bergerak moderat ke level Rp19,85 triliun, dari posisi sebelumnya di angka Rp18,62 triliun.

Adapun, total aset MIND ID sampai periode yang berakhir Juni 2025 sebesar Rp298,16 triliun, berasal dari aset lancar sebesar Rp67,41 triliun dan aset tidak lancar sebesar Rp230,75 triliun.

Sementara itu, total liabilitas MIND ID bergerak ke level Rp140,82 triliun, naik 6,8% dari posisi liabilitas yang berakhir Desember 2024 di angka Rp131,86 triliun.

Di sisi lain, total ekuitas MIND ID relatif susut pada periode semester I-2025 ke level Rp157,33 triliun, dari posisi yang berakhir Desember 2024 di level Rp158,36 triliun.

Torehan laba holding tambang pelat merah itu sebagian tertekan dari setoran yang terkontraksi dari PT Freeport Indonesia (PTFI) sepanjang paruh pertama tahun ini.

Freeport Tekor

Sebelumnya, PTFI membukukan penurunan laba bersih sebesar 18,4% pada semester I-2025 menjadi US$1,8 miliar atau sekitar Rp29,3 triliun (kurs Rp16.291/US$), dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai US$2,2 miliar atau sekitar Rp35,84 triliun.

Mengutip laporan keuangan perseroan, penurunan laba Freeport sejalan dengan capaian pendapatan bersih menjadi US$4,99 miliar atau turun tipis dari tahun sebelumnya yang senilai US$5,09 miliar.

Selain itu, biaya pokok penjualan bertambah menjadi US$2,27 miliar, sehingga laba kotor menurun ke US$2,72 miliar dari US$2,98 miliar pada semester I-2024.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas. (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Laporan kinerja PTFI tersebut selaras dengan pernyataan Presiden Direktur Freeport Indonesia Tony Wenas, yang sebelumnya sempat memproyeksikan laba bersih perseroan akan minus tahun ini.

Tony memperkirakan laba bersih Freeport Indonesia hanya akan mencapai US$3,7 miliar (sekitar Rp60,77 triliun) sepanjang 2025, atau turun sebesar 10,81% dibandingkan dengan realisasi sepanjang tahun lalu senilai US$4,1 miliar (sekitar Rp67,32 triliun).

Menurutnya, estimasi penurunan laba perseroan tahun ini disebabkan karena penurunan produksi akibat kondisi kahar, yaitu insiden kebakaran di smelter Freeport di Manyar, Gresik, Jawa Timur pada 14 Oktober 2024.

"Laba bersih tahun lalu adalah US$4,1 miliar. Tahun ini dikira-kirakan US$3,7 miliar karena memang tadi angka produksinya mengalami penurunan karena kahar," kata Tony dalam rapat Komisi VI DPR RI, dikutip Jumat (14/3/2025).

Laba bersih Freeport Indonesia pada 2024 ditunjang dari pendapatan penjualan sebesar US$11,4 miliar atau sekitar Rp170 triliun.

Dengan proyeksi penurunan laba tahun ini, pendapatan Freeport tahun ini juga diprediksi turun 1,8% year on year (yoy) senilai US$11,2 miliar.

"Rencana [pendapatan] pada 2025 masih akan sekitar US$11,2 miliar, dan untuk 2026 US$10 miliar, kira-kira," ujar Tony.

(naw/wdh)

No more pages