Harga Minyak Melandai, Beban Subsidi RI Dinilai Tetap Rawan Naik
Azura Yumna Ramadani Purnama
19 June 2026 12:30

Bloomberg Technoz, Jakarta – Subsidi dan kompensasi energi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp381,3 triliun diprediksi berisiko melonjak Rp50—Rp75 triliun, meskipun harga minyak mentah dunia mulai melandai di bawah US$90/barel.
Alasannya, sejumlah lembaga keuangan internasional memproyeksikan rata-rata harga minyak dunia 2026 bakal di sekitar US$80/barel. Besaran itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 sebesar US$70/barel.
Ekonom Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Badiul Hadi memprediksi jika rata-rata harga minyak mentah 2026 lebih tinggi US$10/barel dari asumsi APBN maka bakal berisiko tinggi bagi anggaran subsidi dan kompensasi energi.
“Selisih US$10/barel dari asumsi ICP US$70 berpotensi mendorong kenaikan beban subsidi energi signifikan. Dengan baseline Rp381,3 triliun tambahan tekanan fiskal bisa berada pada kisaran Rp50—Rp75 triliun jika asumsi kurs dan konsumsi tetap konstan,” kata Badiul ketika dihubungi, Jumat (19/6/2026).
Baidul menyatakan perbedaan realisasi ICP dengan asumsi dalam APBN cukup berisiko bagi subsidi bahan bakar minyak (BBM), gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) 3 Kg, dan listrik bersubsidi.




























