Alasan Sebagian Jomblo di Amerika Anggap AI Berdampak Negatif
Merinda Faradianti
19 June 2026 13:57

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang kini mulai diadopsi aplikasi kencan justru membuat para penggunannya yang lajang atau jomblo tidak nyaman.
Survei terbaru dari Match Group menunjukkan bahwa banyak jomblo di AS menginginkan AI terlalu jauh terlibat dalam urusan romantis. Di sisi lain AI pada aplikasi kencan sudah masif diintegrasikan seperti membuat profil, memilih foto terbaik, hingga menyusun percakapan.
Dalam survei terhadap 1.000 responden berusia 18 hingga 39 tahun, sebanyak 47% lajang mengaku memiliki pandangan negatif terhadap penggunaan AI dalam konteks kencan dan hubungan.
Temuan ini muncul di tengah gencarnya pengembang aplikasi seperti Tinder, Hinge, dan Bumble menambahkan berbagai fitur berbasis AI ke platform mereka, dilansir dari TechCrunch, Jumat (19/6/2026).
Penolakan terbesar muncul terhadap gagasan menjalin hubungan dengan AI atau menggunakan aplikasi pendamping berbasis chatbot.
Sekitar 40% responden mengatakan mereka tidak akan berkencan dengan seseorang yang menggunakan aplikasi pendamping AI. Angka tersebut bahkan meningkat menjadi 51% di kalangan perempuan berusia 18 hingga 24 tahun.
Meski demikian, survei juga menunjukkan bahwa pengguna tidak sepenuhnya menolak kehadiran AI. Sebanyak 64% responden mengaku dapat melihat manfaat AI dalam membantu proses mencari pasangan.
Teknologi ini dinilai berguna untuk menyempurnakan profil, memilih foto yang lebih menarik, atau membantu menjaga percakapan tetap berjalan ketika obrolan mulai terasa canggung.
Hanya 12% responden berusia 18 hingga 24 tahun yang mengaku menggunakan aplikasi semacam itu dalam tiga bulan terakhir. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar sepertiga yang mengatakan mereka benar-benar mencari hubungan emosional dengan chatbot.
Match menyimpulkan bahwa para lajang pada dasarnya menginginkan AI berperan sebagai alat bantu, bukan pengganti interaksi manusia.
Perusahaan menilai pengguna bersedia memanfaatkan AI untuk mengatasi bagian-bagian yang sulit dalam proses berkencan, tetapi tetap ingin membangun koneksi emosional secara langsung dengan pasangan mereka.
































