“Anggarannya sudah ada. Bapak Presiden tambahkan mulai sekarang, kerja. Anggarannya ada Rp9,9 triliun, ini Rp10 triliun untuk perdana. Ini sudah cair. Rp10 triliun tergantung Bapak dan Ibu [gubernur dan bupati] sekarang,” tutur Amran di hadapan para pejabat daerah.
Amran memaparkan anggaran senilai Rp9,95 triliun itu akan ditujukan untuk biaya tanam dan biaya benih untuk 6 komoditas perkebunan, yakni 200.000 hektare (ha) lahan tebu senilai Rp2,27 triliun dan 248.500 ha lahan kakao senilai Rp3,47 triliun.
Kemudian, sebanyak 221.890 ha lahan kelapa dengan anggaran Rp1,16 triliun; 99.500 ha lahan kopi dengan anggaran senilai Rp2,16 triliun; 50.000 ha lahan mete sebanyak Rp0,54 triliun; dan 51.000 ha lahan lada/pala dengan anggaran Rp0,35 triliun.
Sehingga secara total, pemerintah akan menanam 870.890 hektare lahan terhadap tujuh komoditas sepanjang 2025–2027.
“Untuk pertama kita berikan benih bibit gratis untuk 800.000 ha seluruh Indonesia,” tambahnya.
Kementan juga memprediksi hasil dari hilirisasi selama 2025–2027 itu akan mencapai Rp138,49 triliun. Perinciannya, senilai Rp23,2 triliun untuk tebu, Rp67,1 triliun untuk kakao, Rp5,77 triliun untuk kelapa, Rp14,93 triliun untuk kopi, Rp2 triliun untuk mete, dan Rp25,5 triliun untuk lada/pala.
Hilirisasi Kelapa
Amran menyampaikan saat ini terjadi pergerakan sejumlah konsumen yang awalnya mengonsumsi susu menjadi susu nabati atau virgin coconut oil (VCO). Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan oleh Indonesia karena kelapa tidak bisa tumbuh di Eropa hingga China.
“Yang bisa tumbuh [kelapa] adalah Indonesia dan Filipina,” imbuhnya.
Dia menyontohkan RI mengekspor kelapa ke Malaysia sebanyak 400 ribu ton. Ketika hilirisasi dilakukan maka akan meningkat 100 kali lipat. Adapun nilai rata-rata kelapa pada 2022-2024 sebanyak Rp24,92 triliun. Angka ini diproyeksi meningkat menjadi Rp2.400 triliun ketika kelapa di hilirisasi.
“Hari ini, ini ekspor kita [kelapa] Rp24,9 triliun. Kalau ini dikali 100 [jadi] Rp2.400 triliun.
Apa Indonesia tidak menjadi negara super power? Baru kelapa dan harganya kita bisa mainkan karena kita pengendali dunia,” ucap Amran.
“Ini kita akan hilirisasi. Intinya adalah jangan biarkan komoditas kita pertanian ke luar negeri tanpa melalui processing, Indonesia pasti kuat.”
Tenaga Kerja
Di sisi lain, program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut akan berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja. Adapun sepanjang 2025–2027, tanaman tebu akan menyerap 700.000 orang tenaga kerja; 122.667 orang tenaga kerja untuk tanaman kakao; 250.000 orang tenaga kerja untuk kelapa; dan 312.500 orang tenaga kerja untuk tanaman kopi.
Lalu, sebanyak 166.667 orang tenaga kerja untuk tanaman mete, serta 83.333 orang tenaga kerja untuk tanaman lada/pala. Dengan demikian, akan ada 1,63 juta orang tenaga kerja yang terserap dari hilirisasi perkebunan ini.
“Dan bisa membuka lapangan kerja 1,6 juta orang. Ini langkah yang terobosan yang luar biasa yang digagas oleh Bapak Presiden [Prabowo Subianto],” jelas Amran.
(ell)





























