Logo Bloomberg Technoz

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi menilai derasnya arus keluar dana asing dipicu oleh tiga faktor utama. 

Pertama, kekhawatiran pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Funds Rate/FFR) yang dianggap mencerminkan rapuhnya ekonomi dan pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam. Kondisi tersebut membuat investor global lebih memilih aset berisiko rendah hingga safe haven.

“Harga emas global sudah naik sekitar 31% secara YtD,” jelas Audi.

Faktor kedua datang dari dalam negeri. Audi menyoroti instabilitas politik dan kebijakan pemerintah, terutama pasca demonstrasi serta rencana reshuffle kabinet. Pasar masih menanti implementasi kebijakan ekonomi yang konsisten sebelum kembali agresif masuk ke IHSG.

Ketiga, pasar juga menimbang potensi perlambatan pemulihan ekonomi. Meski Bank Indonesia telah memangkas suku bunga dan menyalurkan likuiditas tambahan ke bank Himbara, investor menunggu realisasi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi.

Meski arus keluar asing masih deras, Audi optimistis kebijakan moneter longgar akan memberi efek positif pada IHSG. Ia juga menilai stabilitas ekonomi domestik dan pemulihan kinerja keuangan emiten, terutama saham berkapitalisasi besar, akan kembali menarik minat investor asing. Ditambah, ketegangan geopolitik dan perang tarif yang mereda berpotensi memperbaiki sentimen.

“Pelonggaran ini bisa menurunkan cost of fund, mendorong ekspansi emiten dan memperbesar penyaluran kredit,” ujarnya.

Terkait prospek ke depan, Audi memandang arus modal asing berpeluang berbalik masuk pada kuartal IV-2025. Menurut dia, valuasi pasar Indonesia yang relatif menarik pada sejumlah emiten strategis menjadi alasan utama.

“Selain itu, peluang penurunan FFR lebih lanjut juga bisa mendorong investor asing mencari imbal hasil lebih tinggi ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” imbuhnya.

(dhf)

No more pages