“Pemangkasan suku bunga yang tak terduga menjadi sentimen positif bagi saham–saham Indonesia, memberikan dorongan yang tepat di tengah kondisi pasar saat ini,” papar Jen.
Namun memang, untuk menciptakan reli yang berkelanjutan dalam tren jangka panjang, diperlukan kemajuan lebih lanjut pada aspek–aspek struktural yang lebih penting.
Ditambah lagi, menurut riset analis Jeffrosenberg Chenlim dari Maybank Sekuritas Indonesia, guyuran dana Rp200 triliun pada Jumat lalu ke bank–bank BUMN (Bank Himbara) diprediksi terus mempercepat pelonggaran likuiditas.
Keseimbangan ini memberi sinyal masih ada ruang untuk pemangkasan lebih lanjut jika kondisi memungkinkan.
“Bank Rakyat Indonesia (saham BBRI) dipandang sebagai yang paling diuntungkan, disusul oleh Bank Negara Indonesia (saham BBNI),” sebut Jeffrosenberg, mengutip Bloomberg News.
Lebih jauh, riset analis Andrey Wijaya dan David Chong dari RHB Sekuritas Indonesia menilai, sentimen potensial tersebut ditujukan untuk memperkuat likuiditas sistem perbankan.
“Langkah ini juga diharapkan dapat menghidupkan kembali penyaluran kredit, mendorong pertumbuhan pinjaman, serta mendukung penciptaan lapangan kerja,” jelasnya dalam riset yang dipublikasikan, Kamis.
RHB menegaskan, kebijakan ini akan memberikan dorongan lebih bagi bagi sejumlah bank milik negara, termasuk BBRI, BMRI, BBNI, dan juga BBTN.
Preferensi RHB pada saham–saham sensitif terhadap suku bunga:
Perbankan: Saham BBCA > Saham BRIS > Saham BMRI > dan juga Saham BBRI
Properti: Saham CTRA
“Kami mempertahankan rekomendasi Neutral untuk saham–saham semen (pilihan utama: INTP) dan saham otomotif (pilihan utama: AUTO). Kedua pilihan tersebut juga diprediksi akan mendapat manfaat dari penurunan suku bunga.”
Suku Bunga Dipangkas
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan level suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) di level 4,75%, berbeda dari konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg.
Hal ini disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI Bulanan yang berlangsung selama dua hari, pada 16–17 September 2025.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan Bank Sentral juga menurunkan level suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,75%, dan suku bunga Lending Facility turun sebesar 25 bps menjadi 5,5%
“Keputusan ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga tetap rendahnya inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5±1% dan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers yang dilakukan secara daring.
Adapun konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg jelang pengumuman BI dengan melibatkan 38 analis/ekonom menghasilkan median proyeksi BI Rate di 5%. Artinya, suku bunga acuan diproyeksi tidak ke mana–mana alias Hold.
Pasar sudah satu suara. Sebab, hanya 2 ekonom/analis (5%) yang memprediksi BI Rate turun 25 bps menjadi 4,75%.
Sepanjang 2025, BI Rate sudah turun 4 kali masing–masing 25 bps. Ini adalah penurunan keenam sejak bulan September 2024 tahun lalu, sehingga membuat BI Rate turun ke level terendah sejak Oktober 2022.
(fad)































