Logo Bloomberg Technoz

Sebagaimana diketahui, pemerintah akan memberlakukan Program Paket Kebijakan Stimulus Ekonomi pada 2025. Program ini terdiri dari delapan program akselerasi ekonomi 2025, empat program berlanjut pada 2026, dan lima program andalan pemerintah untuk menyerap tenaga kerja.

Sejalan dengan pemberian insentif tersebut, lantas Mahendra menekankan pentingnya fokus pada sektor riil untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan. 

“Kami melakukan beberapa penajaman kepada sektor-sektor dan industri tertentu yang seyogyanya diperlukan perhatian yang lebih tinggi lagi untuk memperbaiki kondisi struktural yang ada,” tutur Mahendra.

Dia turut menyoroti peluang dari sektor berorientasi ekspor, meski kondisi global saat ini tidak mudah. Menurut Mahendra, kebijakan pemerintah Amerika Serikat justru membuka potensi pasar yang dapat dimanfaatkan Indonesia.

Pada kesempatan sebelumnya, Ketua Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi menilai kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menggelontorkan dana negara Rp200 triliun ke sistem perbankan pelat merah akan memberi ruang lebih luas bagi pertumbuhan kredit.

Menurut Hery, dengan kondisi saat ini, perbankan memproyeksi pertumbuhan kredit berada di kisaran 8-10% hingga akhir tahun. Tambahan likuiditas dari pemerintah disebut mampu mendorong bank lebih ekspansif, meski efeknya akan berbeda-beda tergantung struktur pendanaan masing-masing bank.

“Kalau buat BRI tentunya kita juga punya likuiditas yang cukup ya, tapi mungkin sebagian dana-dana mahal kita bisa rilis gitu. Kita bisa menggunakan dana yang 4% ini cukup kompetitif gitu,” kata Hery ketika ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, di Jakarta, dikutip Rabu (17/9/2025).

Meski demikian, lanjut Hery, penyaluran kredit tetap harus memperhatikan tata kelola perbankan yang ketat. Perbanas, menurutnya, merekomendasikan agar ekspansi kredit tetap fokus ke sektor-sektor produktif yang mampu memberi dampak berantai terhadap perekonomian.

“Tentunya kalau kita bicara cara kita memberikan pembiayaan atau kredit itu, pasti bank sudah punya tata kelola yang sudah biasa. Jadi kita masih melihat usaha dan seterusnya. Harusnya itu terkontrol dengan baik,” jelasnya. 

Ia menambahkan, penyaluran kredit ke sektor riil diharapkan akan menciptakan multiplier effect yang kuat, “[yang] diharapkan nanti akan [memberikan dampak] lebih, sehingga ekonomi kita akan bergulir ke depan.”

(wep)

No more pages