Perhatian investor tertuju dan berfokus ke Thamrin di mana kantor pusat Bank Indonesia berada. Gubernur Perry Warjiyo dan kolega sudah menggelar pertemuan sejak kemarin, dan akan mengumumkan hasil rapat, pada Rabu siang jelang sore hari nanti.
Rapat Dewan Gubernur BI yang telah digelar sejak kemarin dan diagendakan akan diumumkan keputusannya siang nanti, diprediksi akan menghasilkan BI Rate tetap di 5%.
Mengacu konsensus yang dihelat oleh Bloomberg, sebanyak 36 dari 38 ekonom/analis yang disurvei, mengestimasikan BI Rate akan tetap di 5%. Namun, dua orang di antaranya masih memprediksi BI Rate berpeluang dipangkas 25 bps menjadi 4,75%.
Artinya, boleh dibilang peluang hold amat kuat. Porsi yang menilai BI Rate tetap adalah 95% dan yang mengestimasikan pemangkasan 25 bps hanya 5%.
“BI kemungkinan akan menahan suku bunga acuan di 5%. Ini dilakukan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah setelah pergantian posisi Menteri Keuangan” Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Intelligence, dalam sebuah catatan, dilansir dari Bloomberg.
Selain itu, lanjut Henderson, BI sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang 2025, masing–masing 25 bps. Kemungkinan BI akan memantau terlebih dulu bagaimana dampak dari penurunan yang sudah cukup dalam tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi cukup solid hingga pertengahan tahun, sehingga belum ada kegentingan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan,” imbuh Henderson.
Ujian Bagi Bank Sentral Indonesia
“Pejabat BI saat ini berada dalam posisi serba sulit,” terang Jason Tuvey dari Capital Economics, mengutip Bloomberg News.
“Secara logika, dengan adanya kecemasan terkait independensi serta kemungkinan kebijakan fiskal yang lebih mendukung, para pejabat seharusnya menahan diri untuk tidak melakukan pemangkasan suku bunga untuk ketiga kalinya secara beruntun. Namun, langkah itu jelas berisiko dianggap tidak populer oleh pemerintah.”
Dalam konteks tersebut, keputusan pada Rabu ini “dapat menjadi ujian bagi kesediaan Bank Indonesia untuk memperlihatkan independensinya,” tambah Tuvey.
Rapat BI digelar saat Indonesia tengah menyiapkan serangkaian langkah baru untuk menciptakan lapangan kerja dan memberikan kesejahteraan bagi pekerja gig pasca-protes, serta setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencana menggelontorkan Rp200 triliun ke perekonomian guna mendorong penyaluran kredit.
Ekonom dan analis memperingatkan fleksibilitas semacam itu, meski berguna secara politis, berisiko menjadikan BI sasaran empuk tuntutan Pemerintah — entah untuk mempertahankan suku bunga rendah lebih lama, membiayai program fiskal tertentu, atau menyerap lebih banyak utang negara.
“Terlalu banyak tekanan terhadap Bank Sentral untuk mendukung pertumbuhan ekonomi bisa melemahkan independensi dan kredibilitasnya, yang pada nantinya berpotensi menciptakan risiko sistemik bagi perekonomian,” jelas Lionel Priyadi, Ahli Strategi Makro Ekonomi dan Fixed Income di Mega Capital Sekuritas.
Dalam kesempatan terpisah, Purbaya berusaha menenangkan pasar dengan cara: mempertanyakan urgensi revisi UU tersebut, dan meminta DPR memberi waktu lebih lama untuk mengevaluasi hasil produk legislatif tersebut.
“Akan tetapi, peristiwa tersebut membuat investor semakin ragu terhadap prospek pemangkasan suku bunga BI rate hari ini,” papar Lionel.
Para ekonom mengatakan, mereka akan mencermati bagaimana Perry Warjiyo mengevaluasi kebijakan peningkatan likuiditas, dampaknya terhadap operasi moneter BI, serta prospek langkah berbagi beban ke depan.
Terlebih lagi, Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, mengatakan, ia mengharapkan arahan jelas dari Perry Warjiyo, Gubernur BI, “Sinergi fiskal-moneter akan tetap disiplin pasar, termasuk skema burden-sharing yang dibatasi hanya untuk program tertentu.”
BI juga perlu menegaskan kembali target inflasi dan stabilitas keuangan sebagai jangkar kebijakan, tambahnya.
“Hal ini akan membantu meredam persepsi dominasi fiskal sekaligus menjaga kredibilitas kerangka kebijakan BI,” terangnya.
(fad/aji)






























