Presiden Prabowo Subianto melakukan pergantian personel Kabinet Merah Putih pada 8 September lalu. Salah satu posisi yang berubah adalah Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati menjadi Purbaya Yudhi Sadewa.
Pada 8 September, rupiah menutup perdagangan pasar spot di posisi Rp 16.304/US$. Kemarin, rupiah finis di posisi Rp 16.410/US$.
Jadi, rupiah masih membukukan pelemahan 0,65% sejak Sri Mulyani meninggalkan Lapangan Banteng.
Selain itu, lanjut Henderson, BI sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang 2025, masing-masing 25 bps. Mungkin BI akan memantau terlebih dulu bagaimana dampak dari penurunan yang sudah cukup dalam tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi cukup solid hingga pertengahan tahun, sehingga belum ada kegentingan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan,” imbuh Henderson.
Meski bulan ini BI Rate mungkin ditahan, tetapi Henderson tetap menegaskan bahwa posisi (stance) kebijakan moneter adalah akomodatif. Ke depan, ruang penurunan BI Rate lebih lanjut masih terbuka.
“Kami memperkirakan BI akan melanjutkan pelonggaran moneter tahun ini, beriringan dengan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral Amerika Serikat/AS),” demikian Henderson.
(aji)































