Logo Bloomberg Technoz

“Optimasi reproduksi ikan belida juga dilakukan dengan pemijahan semi-buatan. Dengan tiga teknik itu, tahun lalu, ikan belida yang dikonservasi KPI menghasilkan 1.050 telur dan menetaskan 64 ekor ikan belida generasi pertama,” imbuh Milla.

Tantangan dan Keberhasilan Melestarikan Ikan Belida

Di Pokdakan Tunas Makmur, Desa Sungai Gerong, Banyuasin I, Sumatera Selatan, Yudi dengan telaten merawat kolam ikan belida. Setiap hari ia memantau pergerakan anakan ikan, mengukur kadar pH air, memberi pakan, dan memastikan pertumbuhannya tetap optimal.

“Namanya budidaya, kita harus rutin memeriksa kolam, memberi makan agar ikan belida tumbuh dengan baik, sesuai harapan bersama,” ujar Yudi.    

(Dok. KPI)

Menurutnya, mengembangbiakan ikan belida memerlukan teknik khusus. Sebab ikan ini sulit berkembang biak jika tidak di ekosistem aslinya. Karena itulah ia menduplikasi ekosistem ikan belida semirip mungkin dengan aslinya di dalam kolam.

“Ikan belida itu rata-rata hidupnya di perairan mengalir, makanya kita harus ikuti pola hidup dia di habitat aslinya, salah satunya dengan penggunaan pompa dan aerator,” katanya.

Selain kesulitan meniru ekosistem aslinya, tantangan lain dalam budidaya belida terletak pada reproduksinya. Dalam satu siklus, ikan ini hanya mampu menghasilkan 400 hingga 10 ribu telur, jumlah yang jauh lebih sedikit dibanding ikan air tawar lain yang bisa mencapai ratusan ribu.

"Untuk memaksimalkan jumlah telur yang menetas, juga dibutuhkan inovasi, yang telah kita lakukan adalah pemijahan semi-buatan dan injeksi hormonal”, tandas Area Manager Communication, Relation & CSR Kilang Plaju Siti Rachmi Indahsari. 

Rachmi menjelaskan bahwa ikan belida di alam liar cenderung pemalu dan suka bersembunyi. Untuk itu, KPI melakukan inovasi dengan memanfaatkan pipa limbah Non-B3 kilang sebagai rumah ikan serta palet kayu limbah yang dimodifikasi sebagai tempat penempelan telur.

Jumlah ikan belida hasil konservasi saat ini mencapai 370 ekor dengan rincian belida lopis indukan 38 ekor, calon induk 12 ekor, calon induk G1 sebanyak 10 ekor, benih G1 berjumlah 40 ekor, indukan belida Jawa 111 ekor, calon induk 81 ekor, G1 sebanyak 25 ekor, serta indukan belida Sumatera 4 ekor.

Ia menyampaikan bahwa KPI menargetkan pemijahan indukan G1 pada tahun ini agar pada tahun berikutnya bisa lahir generasi kedua (G2). Jika target itu tercapai, konservasi secara bertahap akan dialihkan kepada masyarakat pembudidaya.

Rachmi juga mengungkapkan bahwa pada 2026 diharapkan sudah terbentuk Kawasan Edukasi Perikanan Terintegrasi & Berdikari di Desa Sungai Gerong, Kabupaten Banyuasin. Tujuan jangka panjang program ini adalah melepasliarkan ikan belida ke habitat aslinya agar populasinya meningkat dan tidak lagi berstatus satwa dilindungi.

“Adalah menjadi mimpi kita semua untuk bisa melihat ikan belida bisa kembali berenang di Sungai Musi suatu hari nanti. Di saat yang bersamaan, tumbuh kesadaran masyarakat untuk ikut melestarikan ikan ini, agar cita rasanya tetap terjaga dalam setiap gigitan pempek, tekwan atau kerupuk Palembang yang kita konsumsi,” ungkap Milla.

Yudi dan rekan-rekannya di Pokdakan Desa Sungai Gerong juga menyimpan harapan yang sama. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan ikan belida? Kalau kita tidak ikut serta dalam upaya pelestarian ini, generasi mendatang hanya akan mendapatkan cerita tentang ikan belida,” ujarnya tegas.

Konservasi ikan belida yang dijalankan KPI sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin kelima yang menekankan pentingnya menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati.

(tim)

No more pages