Logo Bloomberg Technoz

Belida Musi Lestari, Konservasi KPI untuk Palembang


(Dok. KPI)
(Dok. KPI)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sungai Musi siang itu tampak tenang dengan gumpalan awan putih di atasnya. Tak jauh dari aliran sungai, Jembatan Ampera berwarna merah berdiri megah sebagai ikon Kota Palembang yang telah dikenal hingga mancanegara.

Namun, Palembang bukan hanya soal Jembatan Ampera. Kota ini juga identik dengan kudapan berbahan ikan, pempek. Jika kini pempek banyak dibuat dari ikan tenggiri, secara historis ikan belida adalah bahan baku aslinya. Sayangnya, populasi belida di Sungai Musi kini semakin menipis.

“Dulu ikan belida banyak di Sungai Musi, menangkapnya pun mudah. Sekarang sudah jarang terlihat,” kata Yudi.

Menurut Yudi, dahulu ikan belida ditangkap secara masif karena rasanya yang autentik, apalagi semakin populernya pempek membuat jumlah tangkapan meningkat hingga populasi menurun. Pada 1980, pemerintah menetapkannya sebagai satwa dilindungi melalui berbagai regulasi, dan pada 2021 status itu ditegaskan kembali lewat Kepmen KKP No. 1/2021 tentang Jenis Ikan Dilindungi.

Merasa ikan belida bagian dari masa kecilnya, Yudi kini ikut melestarikannya bersama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Plaju melalui Program Belida Musi Lestari yang berjalan sejak 2019. Yudi bergabung pada 2022, setelah sebelumnya membudidayakan ikan air tawar lain seperti sepat, patin, dan gurame. Keahliannya itu kini ia gunakan untuk menjaga kelestarian ikan belida yang terancam punah.

KPI Ikut Lestarikan Ikan Belida

Ikan belida di Indonesia terbagi dalam empat jenis, yakni Belida Jawa, Sumatra, Borneo, dan Lopis. Spesies Belida Lopis sempat dinyatakan punah pada 2020, namun kembali ditemukan lewat riset BRIN, dan menjadi fokus awal konservasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).

Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menjelaskan bahwa program konservasi ini lahir dari keprihatinan atas merosotnya populasi belida akibat penangkapan berlebihan. Menurutnya ikan belida bukan hanya spesies langka, tetapi juga identitas Sumatera Selatan yang harus dilestarikan.

“Populasi ikan belida semakin lama semakin menurun, ini yang membuat kami tergerak untuk ikut melakukan upaya pelestarian. Namun ini bukan hanya sekadar kepedulian untuk menyelamatkan sebuah spesies langka, tapi juga upaya untuk menyelamatkan identitas Sungai Musi yang merupakan salah satu ikon Indonesia,” terang Milla.

(Dok. KPI)

Milla menjelaskan, Program Belida Musi Lestari mulai dijalankan KPI pada 2019 setelah berdiskusi dengan sejumlah pemangku kepentingan, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan, BRIN, Universitas PGRI Palembang, hingga Yayasan Diversitas Lestari Nusantara yang sama-sama prihatin terhadap menurunnya populasi belida di Sumatera Selatan.

Awalnya, program difokuskan pada pelestarian Belida Lopis, namun kemudian diperluas ke Belida Jawa, Sumatra, dan Borneo. Tahun pertama, KPI berhasil menyelamatkan 30 ekor belida dari nelayan untuk dibudidayakan di Pokdakan Mulia, Talang Bubuk.

Sejak 2020, KPI bekerja sama dengan BRPPUPP, dan setelah keluarnya Perpres No. 34/2022, kolaborasi dilanjutkan dengan BRIN. KPI juga membangun ekosistem pendukung konservasi di Desa Sungai Gerong dengan melibatkan Pokdakan Barokah dan Tunas Makmur melalui budidaya perikanan end-to-end yang terintegrasi.


“Lokasi pengembangbiakan ikan di Desa Sungai Gerong sangat cocok untuk konservasi ikan belida. Terlebih masyarakat disana juga sebelumnya juga mengembangbiakan ikan sepat yang merupakan pakan alami ikan belida,” tambahnya.

Melalui metode pemijahan semi-buatan di kolam Resirkulasi Aquaculture System (RAS), program konservasi ini berhasil menghasilkan 1.050 butir telur dan menetas menjadi 40 ekor ikan belida generasi pertama (G1). Keberhasilan tersebut semakin memotivasi KPI untuk terus melestarikan belida dan pada 2025 berkomitmen memulai transisi konservasi kepada masyarakat.