Perdana Menteri (PM) Jepang Shigeru Ishiba telah menawarkan untuk mundur sebagai pemimpin, saat Korut tampak semakin berani berkat aliansinya yang semakin erat dengan Rusia.
Awal bulan ini, Pemimpin Korut Kim Jong Un bergabung dengan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam parade militer di Beijing—tanda perlawanan bersama terhadap tatanan dunia yang dipimpin AS.
Pada Minggu, media pemerintah Korut menyatakan militernya akan menanggapi latihan militer sekutu "dengan tindakan balasan yang sangat jelas dan intensif" jika "unjuk kekuatan" mereka terus berlanjut. Korut sudah lama mengecam latihan gabungan tersebut sebagai geladi resik perang.
Dalam pernyataan terpisah, adik perempuan Kim Jong Un, Kim Yo Jong mengatakan bahwa "unjuk kekuatan yang ceroboh" oleh AS, Jepang, dan Korsel di sekitar Korut pasti akan membawa "akibat buruk" bagi sekutu.
Pekan lalu, Kim Jong Un mengawasi uji coba darat mesin roket berbahan bakar padat berdaya dorong tinggi yang dirancang untuk rudal jarak jauh yang menargetkan daratan AS. Hal ini meerupakan upaya Pyongyang untuk memperluas persenjataannya.
Korsel, AS, dan Jepang mengadakan latihan udara gabungan pada Juni lalu. Kemudian pada Agustus, AS dan Korsel melaksanakan latihan militer gabungan berskala besar tahunan mereka.
(bbn)





























