Sebagai contoh, lanjutnya, industri pengolahan dalam 10 tahun terakhir memiliki efek pengganda 1,69. “Dengan tambahan stimulus kredit sebesar satu rupiah di sektor industri pengolahan, maka PDB sektor tersebut akan bertambah 1,69 rupiah, dengan asumsi cateris paribus atau faktor lainnya konstan alias tidak berubah,” ujarnya.
Tujuh sektor lain yang juga punya daya ungkit lebih dari satu kali adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan; perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; penyediaan akomodasi makanan dan minuman; transportasi dan pergudangan; informasi dan komunikasi; jasa pendidikan; real estat; dan administrasi pemerintahan.
“Kucuran kredit di luar delapan sektor tersebut cenderung tidak mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi secara langsung. Bukan tidak penting, bisa jadi transmisi daya ungkitnya tidak secara langsung,” papar Christiantoko.
Jangan Sampai Bank Diberi Cek Kosong
Christiantoko juga menekankan pentingnya pengawalan pemerintah dalam penyaluran kredit. “Jangan berikan bank cek kosong, dalam arti boleh disalurkan ke mana saja. Sektor yang dikucurkan pinjaman harus jelas, dan pemerintah memastikan tepat sasaran,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai pemanfaatan dana stimulus Rp200 triliun perlu diiringi kebijakan lain yang lebih luas. “Paket kebijakan yang komprehensif ini penting, karena untuk mendukung kinerja perekonomian nasional, tidak dapat dikendalikan oleh Kementerian Keuangan sendiri,” katanya.
Kondisi Perbankan Masih Mendukung
Menurut Christiantoko, kondisi perbankan Indonesia saat ini masih cukup longgar untuk menyalurkan kredit. “Apalagi, ujarnya, likuiditas di perbankan masih relatif longgar dengan loan to deposit rasio (LDR) masih di bawah 90%. Begitu pun dengan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang masih terjaga, yakni rata-rata di bawah 2,5%,” paparnya.
“Data rasio kredit bermasalah itu menunjukkan risiko penyaluran kredit masih terkelola dengan baik, sekaligus mengisyaratkan bahwa dunia usaha masih mampu membayar kewajiban kreditnya,” jelasnya.
Kondisi ini semakin diperkuat dengan data makro terbaru. “Peluangnya sangat terbuka, mengingat indeks manufaktur Indonesia untuk periode Agustus 2025 yang dikeluarkan oleh S&P Global ada di posisi 51,5 atau sedang melakukan ekspansi. Begitu pun dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dikeluarkan Kementerian Perindustrian, untuk periode yang sama indeksnya ada di posisi 53,55,” tambahnya.
Dorongan Permintaan Harus Jadi Prioritas
Christiantoko mengingatkan bahwa selain menyalurkan kredit ke sektor yang tepat, pemerintah juga harus memastikan adanya stimulus untuk permintaan masyarakat. “Program-program stimulus yang dapat mendorong daya beli, harus tetap dijalankan agar ada insentif bagi dunia usaha untuk beraktivitas lebih,” ujarnya.
Dengan strategi terintegrasi yang menggabungkan penawaran dan permintaan, dana Rp200 triliun diharapkan tidak hanya menjadi suntikan likuiditas, tetapi juga motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
(red)




























