Logo Bloomberg Technoz

Pada Jumat, indeks sentimen konsumen AS turun ke level terendah sejak Mei, tetapi ekspektasi inflasi jangka panjang naik untuk bulan kedua berturut-turut.

“Pemotongan suku bunga The Fed akan merugikan dolar AS,” tulis Michael Pfister, ahli strategi valuta asing di Commerzbank, dalam sebuah catatan. Namun, inflasi yang persisten berarti tren penurunan tersebut akan menjadi “pelan-pelan daripada ledakan besar,” katanya.

Commerzbank adalah yang paling pesimistis terhadap dolar dalam jajak pendapat Bloomberg, memprediksi pemotongan suku bunga agresif akan membantu melemahkan dolar menjadi US$1,22 terhadap euro pada akhir tahun. Hal itu berarti penurunan sekitar 4% dari level Jumat lalu.

“Penurunan dolar AS telah melambat secara signifikan sejak awal tahun ini, tetapi dinamika akhir siklus dan dorongan yang tegas dari Presiden ECB Christine Lagarde membatasi potensi kenaikan yang signifikan bagi dolar AS,” kata analis valas Bloomberg, Brendan Fagan.

Bank of America mengatakan pada Jumat bahwa posisi short dolar AS tetap menjadi perdagangan dengan keyakinan tertinggi di seluruh pasar dalam survei berkala terhadap manajer dana global.

“Posisi long risiko kini dianggap sebagai perdagangan yang paling ramai, karena kekhawatiran seputar posisi short dolar tidak lagi menonjol, yang mungkin sebagian menjelaskan keyakinan yang lebih kuat pada posisi short dolar untuk sisa tahun ini,” kata tim Bank of America yang meliputi Adarsh Sinha dan Michalis Rousakis. 

Walau begitu, prevalensi posisi bearish dolar AS mungkin menjadi salah satu faktor di balik ketahanan mata uang tersebut terhadap euro dalam beberapa hari terakhir, kata Jane Foley, Kepala Strategi Mata Uang di Rabobank, dalam laporan tanggal 11 September. 

(bbn)

No more pages