Perkembangan dari Amerika Serikat (AS) masih menjadi faktor penggerak harga emas. Malam tadi waktu Indonesia, US Bureau of Labor Statistics melaporkan data inflasi di tingkat produsen.
Untuk periode Agustus, inflasi produsen tercatat 0,1% secara bulanan (month-to-month/mtm). Jauh melambat ketimbang Juli yang sebesar 0,7% mtm dan juga di bawah ekspektasi pasar dengan perkiraan 0,3% mtm.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi produsen di Negeri Adikuasa adalah 2,6% pada Agustus. Melambat dibandingkan Juli yang sebesar 3,1% yoy dan konsensus pasar dengan perkiraan 3,3% yoy.
Ini menjadi perlambatan inflasi perdana dalam empat bulan terakhir. Ditambah dengan perlambatan di pasar tenaga kerja, maka menjadi tidak ada alasan bagi bank sentral Federal Reserve untuk menggelontorkan stimulus moneter dengan penurunan suku bunga acuan.
Mengutip CME FedWatch, probabilitas penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4-4.25% dalam rapat September adalah 92%. Sedangkan peluang pemotongan 50 bps ke 3,75-4% adalah 8%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas akan lebih menguntungkan kala suku bunga turun.
“Kemungkinan The Fed akan mempertahankan posisi (stance) longgar sampai Maret 2026. Kami memperkirakan harga emas bisa menyentuh US$ 3.800/troy ons pada akhir tahun. Kami melihat akan ada tambahan kepemilikan emas di berbagai negara, termasuk China dan India,” sebut catatan ANZ Group Holdings Ltd.
(aji)




























