Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, kata Amri, MEDC juga menghadapi penurunan harga minyak dunia. Rata-rata realisasi harga turun 14% menjadi US$70 per barel, dibandingkan US$81 per barel pada semester I-2024.

Adapun secara rinci dari pos operasional MEDC sendiri beban pokok pendapatan dan biaya langsung turun tipis 1,59% menjadi US$702,6 juta setara Rp11,33 triliun dari sebelumnya US$714,02 juta.

Komponen terbesar berasal dari penyusutan, depresiasi, dan amortisasi senilai US$281,11 juta, biaya produksi dan lifting US$202,73 juta, serta pembelian minyak mentah US$144,91 juta. Sementara itu, beban tenaga listrik dan jasa terkait lainnya tercatat US$44,49 juta, biaya jasa US$18,01 juta , dan eksplorasi US$11,31 juta.

Secara keseluruhan, pendapatan MEDC menyusut 2,31% menjadi US$1,13 miliar setara Rp18,29 triliun dari US$1,16 miliar pada semester I-2024. Dari jumlah tersebut, pendapatan kontrak dengan pelanggan menyumbang US$1,11 miliar, turun dibandingkan US$1,14 miliar pada tahun sebelumnya. Pendapatan keuangan juga sedikit turun menjadi US$23,63 juta dari US$24,30 juta.

Meski tertekan, MEDC tetap mempertahankan belanja modal tahun ini di kisaran US$430 juta atau setara sekitar Rp6,93 triliun. Sebanyak US$400 juta dialokasikan untuk sektor migas, terutama proyek gas di Blok B Natuna dan Koridor, pengeboran di Oman Blok 60, serta kegiatan pengembangan lain. Adapun US$30 juta disiapkan untuk penyelesaian proyek listrik Batam Expansion.

Amri menegaskan biaya kas produksi migas masih terjaga di bawah US$10 per barel setara minyak. Sementara itu, rasio net debt terhadap EBITDA di restricted group diperkirakan tetap di bawah 2,5 kali, meski berpotensi meningkat pascaakuisisi Koridor.

(dhf)

No more pages