Penggerebekan ini datang pada saat yang sensitif, tak lama setelah pertemuan puncak Lee dan Trump yang dimaksudkan untuk memperkuat aliansi sekaligus meneguhkan pakta dagang baru. Kesepakatan itu mencakup dana sebesar US$350 miliar untuk mendukung ekspansi perusahaan Korsel di AS, termasuk US$150 miliar untuk industri perkapalan. Perusahaan swasta juga menjanjikan tambahan US$150 miliar investasi langsung di AS.
Kasus ini menimbulkan tekanan besar bagi pemerintahan Lee di dalam negeri dan berpotensi menjadi isu diplomatik serius dengan salah satu sekutu terdekat Washington. Mayoritas surat kabar harian Korsel menempatkannya di halaman utama pada Sabtu, dengan gambar pekerja yang diborgol di pergelangan tangan, pinggang, dan pergelangan kaki lalu digiring ke bus, yang memicu kemarahan publik.
Harian Chosun Ilbo, surat kabar dengan sirkulasi terbesar, bahkan menampilkan foto para pekerja dengan tangan menempel di bus serta gambar dari fasilitas detensi di Georgia yang disebut “dipenuhi jamur, lebih buruk dari penjara.”
“Ini terasa seperti ditusuk dari belakang,” kata Kim Tae-Hyung, profesor sekaligus Ketua Departemen Ilmu Politik Universitas Soongsil di Seoul. “Sebagian besar warga Korea tidak bisa menahan amarah,” ujarnya. Menurutnya, perusahaan-perusahaan Korea akan “pasti” mengurangi niat investasi di AS.
Penggerebekan ini pun membayangi upaya investasi besar Korsel di AS. Penahanan pekerja dari proyek unggulan itu bisa ditafsirkan perusahaan sebagai tanda risiko politik dan kepatuhan di AS lebih besar dari perkiraan.
Bulan lalu Hyundai Motor berkomitmen meningkatkan investasi di AS menjadi US$26 miliar hingga 2028, naik dari rencana awal US$21 miliar, demi memperluas produksi mobil, baja, dan robotik. Saham Hyundai naik 3,8% tahun ini, dibandingkan lonjakan 34% indeks Kospi. Sementara itu, saham LG Energy turun 1,4% dalam periode yang sama.
Pada Minggu, sekelompok legislator partai berkuasa Korsel menyatakan bahwa jika AS sungguh ingin menarik investasi dari perusahaan Korea, penahanan massal warganya seharusnya tidak terjadi. Mereka menegaskan sebelum investasi diperluas, Seoul harus menekan Washington untuk menjamin keselamatan warganya serta memperbaiki kebijakan visa bagi pekerja yang datang ke AS untuk tujuan investasi.
Surat kabar Maeil Business bahkan menampilkan kartun bergambar Trump memegang pentungan, sementara seseorang menyerahkan kotak berisi uang untuk membangun pabrik di AS — hanya untuk terkejut melihat puluhan pekerja Korea yang datang untuk urusan bisnis justru ditahan.
Pabrik di Georgia itu sejatinya menjadi simbol nyata komitmen Seoul mendukung sektor manufaktur AS. Namun, bila otoritas AS terus menegakkan hukum imigrasi secara ketat tanpa memperbaiki masalah visa yang berlarut, perusahaan Korea akan menghadapi hambatan lebih besar dalam membangun maupun mengoperasikan pabrik, kata Chang Sang-sik, Kepala Pusat Riset Perdagangan Internasional di Asosiasi Perdagangan Internasional Korea.
Media lokal melaporkan banyak perusahaan Korea menggunakan program bebas visa ESTA, yang seharusnya hanya berlaku untuk kunjungan bisnis jangka pendek hingga 90 hari, saat harus segera mengirimkan pekerja.
“AS menuntut investasi dari Korea Selatan, tetapi meminta agar pabrik di sana hanya dibangun oleh pekerja Amerika. Kenyataannya, itu tidak mungkin,” ujar Chang. “Mereka butuh teknisi lokal selama masa konstruksi.”
Pejabat AS menyebut penggerebekan ini sebagai aksi penegakan hukum terbesar dalam satu lokasi oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri, dengan total 475 pekerja ditahan.
Meski menegaskan penggerebekan itu hasil investigasi berbulan-bulan terkait perekrutan ilegal dan bukan bermotif politik, fakta di lapangan sulit dipungkiri. Insiden ini menempatkan kebijakan penegakan imigrasi ketat pemerintahan Trump berhadapan dengan prioritas lain: menarik investasi asing dan menghidupkan kembali manufaktur di dalam negeri.
Korsel adalah mitra dagang terbesar keenam AS dan perusahaan-perusahaannya berperan penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global. Investasi mereka di pabrik-pabrik AS sebelumnya justru didorong Washington demi mengurangi ketergantungan pada China. Namun, tindakan keras yang menyasar proyek semacam ini berisiko memperumit hubungan dagang.
Dampak langsung sudah terasa. Pembangunan pabrik di Georgia sementara dihentikan, yang berpotensi mengganggu jadwal produksi kendaraan listrik Hyundai di AS. Kompleks industri ini ditargetkan mampu memproduksi hingga 500.000 kendaraan hibrida dan listrik per tahun serta mempekerjakan 12.500 orang pada awal dekade mendatang.
Ini bukan pertama kalinya Hyundai — salah satu investor asing terbesar di sektor manufaktur AS — terjerat masalah hukum ketenagakerjaan. Pada 2022, Departemen Tenaga Kerja AS menemukan pelanggaran pekerja anak di perusahaan pemasok Hyundai di Alabama.
Hyundai menyatakan tengah memantau situasi di Georgia dan berupaya memahami kondisi spesifik, serta menegaskan tidak ada karyawannya yang ikut ditahan.
Sementara itu, LG Energy menghentikan perjalanan bisnis karyawan ke AS dan meminta staf yang sudah ada di sana untuk kembali ke Korea. LG mengonfirmasi 47 karyawannya ditahan — 46 dari Korsel dan satu dari Indonesia. Laporan media juga menyebut pekerja Korea lainnya berasal dari perusahaan subkontraktor.
(bbn)
































