Logo Bloomberg Technoz

“Tembaga memiliki outlook jangka menengah yang sangat positif. Proyeksi kelangkaan pasokan dan meningkatnya permintaan dari transisi energi [kendaraan listrik, energi terbarukan] diperkirakan terus mendorong harga naik,” tegas dia.

Tiga Faktor

Akan tetapi, dia tetap mengingatkan bahwa terdapat tiga faktor penting yang menjadi perhatikan pasar dalam aksi demonstrasi yang terjadi di Indonesia.

Pertama, aksi demonstrasi bisa memberikan sentimen negatif jika terjadi di lokasi pertambangan, smelter, atau pelabuhan. Hal ini, dipandang bisa secara langsung memengaruhi produksi dan pengiriman.

Kedua, jika aksi demonstrasi yang terjadi memicu ketidakpastian mengenai kebijakan pemerintah terhadap industri pertambangan, maka akan memberikan kekhawatiran bagi investor.

“Hal ini dapat menakut-nakuti investor dan memengaruhi pasokan jangka panjang,” ungkap dia.

Ketiga, jika demonstrasi tersebut mendapat sorotan global dalam jangka waktu panjang maka bisa memberikan kekhawatiran di pasar komoditas. Apalagi, Indonesia merupakan salah satu produsen tembaga terbesar di dunia.

Untuk diketahui, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan produksi tembaga turun 25% dari 1,6 juta ton pada 2023 menjadi 1,2 juta ton pada 2024.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Hendra Sinadia mengungkapkan bahwa tembaga RI mayoritas di ekspor ke wilayah Asia dan Eropa karena jaraknya yang tidak terlalu jauh.

Adapun, tembaga di London Metal Exchange (LME) diperdagangkan di level US$9.884/ton pagi ini atau turun tipis 0,18% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya.

Menurut kajian BMI, lengan riset Fitch Solutions dari Fitch Group, prospek produksi untuk komoditas logam penting ini diramal masih akan tumbuh kuat hingga 2034.

Ekspansi baru tambang tembaga di berbagai negara mulai kembali bermunculan, didukung oleh harga yang mencapai rekor historis serta prospek permintaan yang masih cerah.

“Kami memperkirakan produksi tambang tembaga global akan meningkat dengan tingkat tahunan rata-rata 2,9% selama periode 2025—2034, dengan output tahunan meningkat dari 23,8 juta pada 2025 menjadi 30,9 juta pada 2034,” papar tim riset BMI dalam laporannya.

Untuk 2025 saja, produksi tambang tembaga dunia diestimasikan meningkat 2,5% secara year on year (yoy), ditopang oleh pemulihan produksi di Cile dan peningkatan produksi di tambang Oyu Tolgoi, Mongolia.

Peru, Rusia, dan Zambia juga akan tetap menjadi kontributor utama pasokan tembaga global. Akan tetapi, produksi dari Indonesia, Kanada, dan Kazakhstan ditaksir akan mengalami penurunan, meski tidak dijelaskan seberapa signifikan penurunan tersebut.

(azr/wdh)

No more pages