Langkah ini sejalan dengan upaya lebih luas Presiden Korsel Lee Jae Myung untuk memperbaiki hubungan dengan pemimpin Korut Kim Jong Un, yang menandai pergeseran dari kebijakan garis keras pendahulunya yang konservatif. Pada Juni lalu, Lee juga memerintahkan penghentian siaran pengeras suara di dekat perbatasan yang biasa digunakan untuk mengkritik rezim Kim.
Meskipun dampak dari penghentian siaran ini sulit diukur, upaya berulang Korut untuk mengacaukan sinyal radio tersebut menunjukkan bahwa siaran itu cukup efektif menjangkau pendengar. “Di negara yang kekurangan energi seperti Korut, penggunaan daya listrik yang berharga untuk memblokir siaran luar negeri menunjukkan adanya audiens yang mendengarkan dan ancaman yang ditimbulkan oleh isi siarannya,” ujar Williams.
(bbn)































