Logo Bloomberg Technoz

Alphonzus menjelaskan sejatinya fenomena Rojali bukan bukan hal yang baru karena sebelumnya sudah pernah terjadi. Hanya saja intensitas jumlahnya semakin meningkat dari waktu ke waktu. 

Menurutnya, hal itu disebabkan karena daya beli masyarakat yang semakin berkurang karena kondisi ekonomi. Bagi kelas menengah ke bawah menjadi lebih selektif dalam berbelanja dengan membeli produk dengan harga satuan. 

“Berbelanja kalau tidak perlu, tidak belanja, kemudian kalaupun belanja beli barang produk yang harga satuan yang unit harganya murah itu yang terjadi,” tuturnya. 

Sementara itu, bagi kelas menengah ke atas akan lebih hati-hati dalam membelanjakan uangnya, mereka disebut lebih memilih untuk berinvestasi. 

Di sisi lain, dia menuturkan fenomena rojali akan terus berlanjut ketika daya beli masyarakat makin tergerus. Namun, ketika pemerintah mulai memberikan stimulus kebijakan untuk mendorong daya beli masyarakat maka fenomena rojali akan terhenti. 

“Jadi kami yakin fenomena ini enggak akan selamanya, ini hanya sifatnya sementara di mana daya beli masyarakat masih belum pulih,” imbuh dia. 

Ditemui terpisah, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut fenomena rojali di pusat perbelanjaan bukanlah hal baru. Menurut dia,  masyarakat bebas untuk menentukan pilihan untuk berbelanja secara daring ataupun luring. 

"Kan kita bebas kan. Saya bilang kan kita tuh bebas mau beli di 'online', mau beli di 'offline' kan bebas. Kan dari dulu juga ada itu," ujar Budi dalam kegiatan yang sama. 

Dia mengatakan kebanyakan konsumen ingin melihat sebuah barang secara langsung guna memastikan keaslian, harga dan kualitas.

Dia menyebut hal tersebut umum dilakukan dan tidak ada yang salah dengan fenomena tersebut. Dia juga menekankan pemerintah tidak bisa mengintervensi masyarakat untuk mewajibkan pembelian produk harus dilakukan di mal atau toko fisik lainnya.

"Dari dulu kan begitu, namanya orang mau belanja dicek dulu, yang pengin lihat barangnya bagus kah, harganya seperti apa. Jangan sampai nanti dapat yang palsu, misalnya kan gitu dapat barang rekondisi, makanya dicek barangnya bagus," katanya.

(ain)

No more pages