Kinerja positif ini tercermin dari peningkatan penyaluran kredit dan pembiayaan yang terus menunjukkan tren naik. Di tengah dinamika ekonomi global, BRI mampu menjaga momentum pertumbuhan dengan memperkuat fondasi bisnis yang berkelanjutan.
Dalam konferensi pers kinerja keuangan Triwulan I 2026 yang digelar di Kantor Pusat BRI pada Kamis, 30 April 2026, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan capaian signifikan perusahaan. Total kredit dan pembiayaan BRI tercatat mencapai Rp1.562 triliun.
Angka tersebut tumbuh sebesar 13,7 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi indikator kuat bahwa fungsi intermediasi BRI berjalan optimal di berbagai segmen.
“Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI, dengan total penyaluran mencapai Rp1.211 triliun,” ujar Hery.
Dominasi UMKM dalam portofolio pembiayaan menunjukkan komitmen BRI dalam mendukung sektor ekonomi kerakyatan. Pendekatan ini juga sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional berbasis usaha kecil.
Selain itu, BRI juga terus memainkan peran strategis sebagai penyalur utama Kredit Usaha Rakyat di Indonesia. Program ini menjadi salah satu instrumen penting dalam memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha kecil.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah. Penyaluran tersebut menjangkau berbagai sektor produktif di seluruh Indonesia.
Sektor pertanian menjadi kontributor terbesar dalam penyaluran KUR tersebut. Nilainya mencapai Rp19,86 triliun atau sekitar 42,16 persen dari total pembiayaan KUR yang disalurkan.
“Penyaluran tersebut tidak hanya mencerminkan skala dan jangkauan layanan BRI yang luas, tetapi juga menjadi katalis dalam mendorong pertumbuhan usaha produktif, meningkatkan kapasitas UMKM, serta menciptakan lapangan kerja di berbagai daerah,” imbuh Hery.
Transformasi dan Pemberdayaan UMKM Berkelanjutan
Tidak hanya fokus pada pembiayaan, BRI juga активно menjalankan berbagai program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM. Upaya ini menjadi bagian integral dari strategi perusahaan dalam menggerakkan ekonomi berbasis masyarakat.
Salah satu program unggulan adalah Desa BRILian yang hingga akhir Maret 2026 telah menjangkau lebih dari 5.245 desa di seluruh Indonesia. Program ini dirancang untuk memperkuat ekonomi desa melalui peningkatan kapasitas dan kemandirian masyarakat.
Selain itu, program KlasterkuHidupku juga terus dikembangkan sebagai strategi pemberdayaan berbasis komunitas. Hingga kini, lebih dari 43 ribu klaster usaha telah terbentuk dan menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
Di sisi digitalisasi, BRI menghadirkan platform LinkUMKM sebagai ekosistem terintegrasi bagi pelaku usaha. Platform ini menghubungkan UMKM dengan pasar, mitra bisnis, serta akses terhadap layanan keuangan secara lebih luas.
Jumlah pengguna LinkUMKM terus mengalami peningkatan signifikan. Hingga saat ini, lebih dari 15,5 juta pelaku UMKM telah bergabung dalam ekosistem digital tersebut.
BRI juga memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui pembinaan yang dilakukan di 54 Rumah BUMN. Program ini dilengkapi dengan lebih dari 18 ribu pelatihan yang bertujuan meningkatkan daya saing dan mendorong UMKM naik kelas.
Model bisnis yang berfokus pada UMKM memberikan keunggulan tersendiri bagi BRI dalam mengelola risiko. Portofolio pembiayaan yang tersebar di jutaan nasabah menciptakan diversifikasi risiko yang lebih baik.
Dengan plafon pinjaman yang relatif kecil dan tersebar luas, risiko kredit menjadi tidak terpusat pada satu debitur. Hal ini membuat struktur portofolio BRI lebih tahan terhadap tekanan ekonomi.
Strategi tersebut terbukti efektif dalam menjaga stabilitas kinerja keuangan perusahaan. Hingga akhir Triwulan I 2026, BRI mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun.
Capaian tersebut tumbuh 13,7 persen secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan kredit yang kuat. Sementara itu, total aset BRI juga meningkat menjadi Rp2.250 triliun atau tumbuh 7,2 persen secara tahunan.
Dari sisi profitabilitas, BRI mencatat peningkatan rasio Return on Assets menjadi 2,8 persen. Sedangkan Return on Equity naik dari 17,1 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 18,4 persen pada periode yang sama tahun ini.
Kinerja ini menunjukkan bahwa strategi fokus pada UMKM tidak hanya memberikan dampak sosial, tetapi juga menghasilkan kinerja finansial yang berkelanjutan. BRI pun optimistis dapat terus menjaga pertumbuhan di tengah berbagai tantangan ekonomi ke depan.
Dengan kombinasi antara pembiayaan, pemberdayaan, dan digitalisasi, BRI terus memperkuat posisinya sebagai bank yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi nasional berbasis kerakyatan.