Minat Shell tersebut, lanjutnya, telah dibuktikan melalui persiapan perusahaan energi itu menjadi anggota Migas Data Repository (MDR), yang merupakan salah satu kewajiban kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang beroperasi di Indonesia.
Sekadar catatan, iuran keanggotaan MDR untuk mengakses data migas di Indonesia diwajibkan bagi KKKS anggota, baik yang memiliki wilayah kerja (WK) maupun tidak.
Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), anggota yang mengelola lebih dari 5 WK diwajibkan mengiur US$50.000, sedangkan yang memiliki 2—5 WK US$40.000, dan 1 WK US$20.000.
Sementara itu, anggota yang tidak memiliki atau terafiliasi dengan WK di Tanah Air dikenai biaya US$35.000.
“Jadi dia ikutan juga beli [data melalui MDR seharga] US$30.000. Itu sudah memasukkan ke negara untuk melihat-lihat peluang di Indonesia. Kami ingin mematangkan agar Shell juga bisa berbagi risiko dan nyaman untuk kembali ada di Indonesia,” ujar Rikky.
Bagaimanapun, Rikky belum bersedia mengungkap wilayah kerja mana yang dilirik oleh Shell sebagai jalan masuk kembali ke industri hulu migas nasional.
“Itu nanti mungkin joint study lah, [bersama] teman-teman Kementerian ESDM,” tuturnya.
Adapun, joint study merupakan mekanisme penawaran WK di mana para investor dapat mencari data cadangan migas secara independen, dengan risiko dan ongkos yang ditanggung sendiri.
Sebelumnya, Kementerian ESDM membenarkan Shell tengah mempertimbangkan untuk kembali berinvestasi di aset hulu migas Indonesia.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Eksplorasi dan Peningkatan Produksi Migas Nanang Abdul Manaf mengungkapkan rencana Shell itu telah disampaikan ke Tim Eksplorasi SKK Migas.
“Iya, kebetulan [niatan Shell telah] disampaikan ke Tim Eksplorasi SKK Migas. Tim SKK Migas kemudian menyampaikannya ke saya,” ujarnya kepada Bloomberg Technoz, Senin (19/5/2025).
Nanang menyebut raksasa energi asal Eropa itu saat ini tengah memasuki tahap evaluasi minat area bersama tim SKK Migas. “Shell cari wilayah yang kemungkinan dapat giant discovery,” ujarnya.
Hanya saja, Nanang menuturkan, detail rencana investasi itu masih menjadi pembicaraan internal Shell. Dengan demikian, dia belum dapat berkomentar banyak ihwal blok migas potensial mana yang dibidik Shell nantinya.
“Belum diinformasikan, mungkin internal mereka sudah punya kandidat,” tuturnya.
Namun, Berdasarkan informasi yang didapatkannya dari SKK Migas, Nanang menyebut sejumlah raksasa migas global kemungkinan besar tengah mencari cadangan migas baru berukuran raksasa atau giant.
“Saya yakin sekelas Chevron, TotalEnergies, dan Shell yang kita masukkan dalam kategori super major oil companies; mereka mencari cadangan migas baru yang ukurannya giant, seperti ukuran Lapangan Banyu Urip, Abdai Masela, Geng North, dan lainnya.”
Nanang menerangkan WK migas dengan kapasitas cadangan jumbo tersebut kebanyakan terdapat di areal frontier seperti laut dalam.
Adapun, areal-areal tersebut kebanyakan tersebar di lepasa pantai (offshore) Pantai Barat Sumatra, Pantai Selatan Jawa Timur atau yang disebut Fore Arc Basins, dan cekungan Andaman.
Lalu, ada pula yang tersebar di wilayah Timur Indonesia seperti di sekitar Banda Arc, Timor, dan Arafura.
“Kalau yang onshore [daratan] ke arah Warim [atau Akimeugah], perbatasan dengan Papua Nugini,” lanjutnya.
Di Indonesia, saat ini Shell lebih banyak berkecimpung di lini hilir migas. Akan tetapi, rekam jejaknya di sektor hulu migas nasional cukup panjang.
Shell pernah terlibat di industri hulu migas Indonesia sebagai pemegang hak partisipasi atau participating interest (PI) proyek Abadi Masela; ladang gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) raksasa di wilayah Tanimbar, Maluku.
Di Blok Masela, Shell bersama Inpex Corporation (Inpex) sebelumnya setuju untuk membangun fasilitas LNG dengan kapasitas tahunan sebesar 9,5 juta ton dalam kontrak pemulihan biaya senilai sekitar US$20 miliar.
Akan tetapi, pada 2020, Shell memutuskan untuk keluar dari proyek tersebut dengan menjual 35% hak partisipasinya seharga US$2 miliar.
Upaya Shell untuk melakukan divestasi dari Blok Masela sejak itu berlarut-larut, sehingga menciptakan ketidakpastian seputar kelanjutan pengembangan Lapangan Abadi yang menyimpan 360 miliar meter kubik gas itu.
(wdh)






























